Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  #  |  need help ?

Ibu-ibu Ulu Jami Jakarta Nikmati Talu

Written By imran rusli on Saturday, July 2, 2011 | 3:38 PM

TALU—Sebanyak 27 orang pengurus KSPW WU (Koperasi Simpan Pinjam Wanita Warga Ulu Jami) Cempaka, dari Kelurahan Ulu Jami Jakarta Selatan menikmati malam pertama dari agenda wisata lima hari mereka di Talu, KecamatanTalamau, Pasaman Barat, Jumat (22/10).

Rombongan tur yang tiba di Talu sekitar pukul 19.00 WIB disambut meriah di Rumah Godang Tuanku Bosa Suku Jambak, Koto Dalam. Mereka diterima para pejabat Pasaman Barat, Muspika Talamau, Wali Nagari Talu Jufri Ssos dan Sinuruik Drs Masrivelli, serta tentu saja Tuanku Bosa XIV—Pucuk Adat Talu—dr Fadlan Maalip dan tokoh-tokoh masyarakat Talu lainnya. Dua pejabat yang hadir adalah Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Hasnal dan Kepala Dinas Pendidikan Hendri, sedangkan Muspika Talamau antara lain Camat Syafruddin dan Kapolsek Talamau Iptu Mushendra.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pasaman Barat mengungkapkan kegembiraanya terhadap kunjungan ibu-ibu dari Ulujami, Jakarta Selatan ini. “Wisata Pasaman Barat terus berbenah, salah satu andalan kita adalah Rumah Godang Tuanku Bosa Suku Jambak ini dan Tobek Godang di atas bukit, di Rumah Godang orang dapat menikmati wisata budaya seperti tari-tarian, musik tradisional, randai, pencak silat, ronggeng dan prosesi macam-macam ritual adat, sementara di Tobek Godang orang bisa menikmati wisata alam seperti mincing, main perahu, mengamati belibis, dan saya dengar akan ada fasilitas outbond juga, semoga ibu-ibu mendapat kesan tak terlupakan dari Talu,” katanya.

Ibu-ibu dari Ulu Jami ini sangat terharu disambut begitu antusias. “Kami sangat terharu sekaligus bangga mendapat sambutan seperti ini, sambutan yang sangat luar biasa dan jauh dari bayangan kami, sudahlah menikmati panorama alam Minang yang indah dengan air sungainya yang jernih, disuguhi hidangan lezat dan unik, eh masih ditambah pula dengan sambutan yang mengesankan,” kata Linarni Ningsih, Ketua Badan Pengawas KSPW Cempaka dalam sambutannya.

Tuanku Bosa XIV, dr Fadlan Maalip menjelaskan, bahwa ibu-ibu KSPW Cempaka merupakan rombongan pertama dari Jakarta yang sampai ke Rumah Godang Tuanku Bosa Suku Jambak. “Sebelumnya ada rombongan berjumlah 85 orang yang berencana datang Juli lalu, tapi tidak jadi karena kendala transportasi, padahal kami sudah siapkan sambutan untuk 150 orang, jadi ibu-ibulah jadinya yang pertama datang dari Jakarta,” katanya.

Menurut Ketua KSPW Cempaka Rosita Emilia, kunjungan ke Talu merupakan tujuan hari pertama dalam lima hari tur yang direncanakan. Obyek wisata yang disasar di sini adalah wisata alam dan budaya, mengingat Talu dikenal dengan sumber air panas dan seni budayanya, seperti ronggeng dan pencak silat.

“Rumah godang Talu merupakan target utama karena kami sudah mendengar kabar dibangunnya rumah gadang ini oleh Tuanku Bosa XIV, kabarnya ini rumah gadang yang lengkap dengan berbagai pernik-pernik budaya khas Talu, seperti baju kebesaran raja Talu, songkok, tongkat, persenjataan dan lain-lain,” kata wanita kelahiran Talu yang malam itu sempat melepas rindu dengan menyanyikan lagu ‘Rang Talu’ bersama beberapa pengurus lainnya diiringi talempong dan suling dari para seniman Rumah godang.

KSPW Cempaka adalah koperasi wanita yang tergolong sukses. Didirikan tahun 1985, kini—25 tahun kemudian–sudah memiliki 450 anggota dan simpanan anggota Rp2 milyar. “Kami juga sudah membangun gedung sendiri, berupa ruko tiga lantai di Ulu Jami,” ungkap Rosita.

Tur ke obyek wisata ini merupakan kebijakan pengurus dan dilakukan sekali dua tahun. “Pengurus kan tidak digaji, jadi setiap kali usai rapat tahunan kami dapat hadiah, tapi kami tidak membagi SHU (Sisa Hasil Usaha) dalam bentuk uang, tapi menggunakannya seperti ini, jalan-jalan ke tempat-tempat wisata, tahun 2008 kami ke Bali,” ujar Rosita lagi. Koperasi ini memiliki beberapa usaha, antara lain catering.

Bendahara KSPW Cempaka Suhartini membenarkan. “Kalau dibagi dalam bentuk uang kan besarannya beda-beda, jadi supaya menyenangkan semua kami pilih bertamasya sama-sama, dan Sumatera Barat ini ternyata sangat indah, masih banyak sungai berair jernih,” katanya.

Sabtu (23/10) rombongan melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. “Sebelum itu kami ke Maninjau, ingin merasakan lewat di Kelok 44 yang terkenal itu,” tambah dia. Tur wisata ibu-ibu KSPW Cempaka ini menggunakan jasa Titian Tour yang berbasis di Bukittinggi. ran

3:38 PM | 0 komentar

Kejamkah Kalau Kuasa Asuhnya Kami Gugat?

Written By imran rusli on Friday, July 1, 2011 | 4:11 PM

Sesuai kesepakatan, cucu kami Keken sudah dua bulan di tangan ibu kandungnya di Natuna. Kami sendiri tinggal di Pekanbaru. Sebelumnya Keken diserahkan ke dalam pengasuhan kami karena ibunya dipenjara dan keluarga besar ibunya tak mau menerimanya dengan alasan anak haram.

Keken kami asuh sejak berusia 12 hari. Saat berusia 2 tahun 10 bulan Keken ‘diculik’ ibu kandungnya yang katanya ingin merawatnya. Kami lapor polisi untuk perbuatan tidak menyenangkan. Dia takut dan minta damai. Mediasi pun dilakukan.

Perjanjiannya saat mediasi Keken akan dibawa ke Pekanbaru setiap bulan, tapi sepertinya janji itu hanya agar bisa membawa Keken ke Natuna, selanjutnya terserah saja. Buronan polisi sering lari ke Natuna dan tak pernah dicari katanya belakangan.

Ketika ditelepon untuk mengingatkan pada kesepakatan dia berdalih gelombang Laut Cina Selatan tinggi. OK kami setuju karena kami juga tidak ingin Keken celaka dalam perjalanan selama 35-40 jam tersebut. Kami baru tahu kalau akses ke Natuna susah kapal hanya ada sekali 2 minggu.

Dia juga berdalih tiket pesawat mahal dan susah didapat. Kami kurang setuju karena yang ngotot berjanji seperti itu dia sendiri, dan sebelum ini uang sama sekali bukan masalah untuk PSK seperti dia yang ulang tahunnya saja selalu dipestakan meriah di klub-klub malam di Pekanbaru. Tapi memang kamibaru tahu ongkos pesawat bisa mencapai Rp3 juta sekali jalan.

Lalu dia mengeluh bahwa Keken nakal sekali, waktunya habis mengurus Keken, dia juga mengeluh tak punya uang untuk beli susu Keken. Ke mana arahnya nih?

Kalau memang tak sanggup bertanggungjawab atas Keken untuk apa dia ngotot mengambilnya?

Ini menimbulkan kekuatiran kami, berdasarkan beberapa hal:

  1. Katanya dia ingin berhenti jadi PSK dan mau jualan baju di Natuna, kini dia mengeluhkan penjualan seret.
  2. Katanya dia mau menikah baik-baik dengan ayah biologis Keken—belum dipastikan dengan test DNA—nyatanya belum-belum juga, dia ngontrak di tempat lain, pacarnya di rumah orang tua.
  3. Dia dulu ditahan karena kasus narkoba kini ditengarai masih mengonsumsi narkoba agar bisa tidur.
  4. Dia tak biasa mengurus batita dan sering mengeluhkan waktunya yang habis tersita untuk Keken.
  5. Keluarga di Pekanbaru dua saudara laki-lakinya mantan narapidana untuk kasus narkoba dan pencurian, ayahnya kini ditahan di LP Pekanbaru karena kasus perkelahian di terminal, ibunya janda sejak dia masih kecil dan kerja serabutan, adik perempuannya PSK juga.
  6. Kalau terjadi apa-apa dengan dia atau dia harus pergi cari uang dengan profesi lamanya Keken akan ditinggal bersama orang-orang ini.

Karena itu selain melanjutkan kasus perbuatan tidak menyenangkan, kami juga berencana menggugat kuasa asuhnya, karena kami tidak mau Keken tumbuh seperti ibu, tante dan oomnya.

Kami ingin bersama Keken sampai ajal memisahkan, tapi kalau hukum tak membolehkan kami ingin Negara menyerahkan Keken pada pasangan muda yang sehat secara sosial dan ekonomi serta punya kepedulian, kasih sayang dan empati pada anak, sehingga Keken bisa tumbuh normal dan sehat.

Apakah itu mungkin? Dan kejamkah itu?

4:11 PM | 0 komentar

Sekolah Hutan Sangong Tak Selalu Dibuka

Written By imran rusli on Wednesday, February 25, 2009 | 2:20 AM



Sekolah hutan adalah program Divisi Pendidikan YCM (Yayasan Citra Mandiri) yang banyak diapresiasi masyarakat adat Mentawai, karena telah membuka kesempatan bagi masyarakat Mentawai yang terpencil di pedalaman untuk tetap mendapatkan pendidikan. Tapi dibutuhkan tenaga pengajar yang berdedikasi tinggi untuk menjaga kesinambungannya, karena tantangannya memang sangat berat.

Oleh Imran Rusli

Letaknya sungguh jauh di pedalaman Sila’oinan, tepatnya di Sangong, Dusun Salappa’, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan. Dari pusat dusun Salappa’, Sekolah Hutan Sangong bisa dicapai dalam setengah jam dengan pompong. “Itu kalau air pasang, kalau air surut waktu tempuh baru bisa mencapai 1,5 jam, bahkan dua jam, karena banyaknya rintangan berupa tunggul kayu, batang pohon yang hanyut, pohon rebah, gosong pasir dan beragam sampah lainnya. Sungai yang dangkal semacam ini sangat tidak nyaman ditempuh.

“Kalau dengan sampan tanpa mesin bisa setengah hari,” kata Timatheus Salaisek, kooperator pompong Puailiggoubat dalam perjalanan ke Sangong Rabu (11/2).
2:20 AM | 4 komentar

Tantangan Perekonomian Salappa'

Dusun Salappa’, seperti juga daerah-daerah lain di pedalaman Siberut Selatan kaya dengan aneka tanaman pertanian seperti kelapa, pisang, keladi, durian, duku, coklat, nilam, rotan, manau, rambutan, kluwih, sukun, dan sebagainya. Saat ini harga-harga berbagai komoditi itu sedang buruk. Coklat Rp 24 ribu per kilogram. Nilam Rp300 rb, manau ukuran 18 Rp500, 26 Rp1.500, 31 Rp3.500, 36 Rp7.000, rotan kecil (sasa) tidak laku, tak ada permintaan dari pedagang pengumpul. Kelapa, keladi, pisang, rambutan, dan lain-lain tidak dijual, untuk dikonsumsi sendiri.

“Padahal tanah di seberang dusun masih terbuka lebar, masih kosong, jadi kalau kita punya kelompok tani bisa dibikin macam-macam. Kita kan sudah cukup banyak belajar di Perpustakaan Palingen tentang penanaman dan pemeliharaan bermacam tanaman yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Tulutogok Tasiripoula, Kepala Desa Muntei terpilih yang kebetulan suami Mariani.

Meski sedang kerepotan, karena warga Salappa’ memiliki banyak anggota keluarga yang melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Padang, Pariaman, Lubuak Aluang, Bukiktinggi, Payokumbuah, Solok dan Pekanbaru, sehingga membutuhkan banyak biaya di luar biaya kebutuhan sehari-hari, mereka benar-benar harus mengupayakan penghasilan tambahan yang tak memerlukan modal besar. Dan tampaknya Mariani sudah melihatnya dalam beraneka tanaman subsisten di sekitar rumah mereka.

Pisang dan keladi, misalnya, adalah dua jenis tanaman yang berpotensi ekonomi tinggi, kalau tahu cara mengolahnya. Pengalaman AMA-PM di Lampung tentang pembuatan keripik pisang tentunya bisa dibagi ke Salappa’. Begitu pula cara pembuatan minyak goreng dari kelapa yang sudah menjadi pengetahuan umum orang Pariaman sejak dulu, pasti dengan mdah diajarkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Keripik dari keladi kan tinggal meniru keripik pisang saja.

Rasanya kita bisa ikut melihat mimpi Mariani, tentang kesibukan wanita kampungnya mengolah pisang dan keladi menjadi camilan bergizi, serta pompong yang bolak-balik Salappa’ – Muara Siberut membawa bungkusan-bungkusan besar keripik pisnag dan keladi untuk dijual di pasar mingguan, atau kalau rutin pasti akan ada saja pedagang pengumpul yang mencium bau keuntungan yang dikandung makanan tersebut bila dibawa ke Padang.

Hmm sungguh sebuah mimpi yang pantas diwujudkan. ran.
2:05 AM | 0 komentar

Wanita Salappa’, Bergerak

Karena keterpinggiran yang begitu lama wanita Salappa’ hampir-hampir tidak terdeteksi di permukaan. Semua dinamika mereka tenggelam di balik keterisolasian. Terpilihnya seorang warga Salappa’ sebagai Kepala Desa Muntei bagaimanapun telah memberikan sepercik harapan yang membuat wanita Salappa’ mulai menggeliat dan menatap masa depan dengan mata yang terbuka.

Oleh Imran Rusli

Cahaya berbinar di mata Mariani Satoinong (25). Istri Kepala Desa Muntei terpilih Tulutogok Tasiripoula ini merasakan semacam dorongan untuk berbuat, dorongan untuk mengkolidasikan semua potensi wanita Salappa’ guna mencapai kemajuan.

Ketika diajak berbincang tentang apa yang mungkin bisa diperbuat wanita Salappa’ ke depan, wanita yang sebenarnya masih berusia 20-an ini terlihat bersemangat. “Banyak sekali Pak, kami bisa belajar merajut, menyulam, membuat aneka makanan dari pisang atau keladi, segala sesuatu yang bisa membantu meningkatkan ekonomi keluarga,” katanya pada Puailiggoubat di Salappa’, Rabu (12/2).

Sebagai perempuan Mentawai, Mariani tampaknya sadar beban kaumnya dalam struktur kebudayaan Mentawai sangat berat. Sebagai kepunyaan uma suami kewajibannya jelas: mencari ikan atau lokan ke sungai, mengurus ladang keladi, mengurus ladang nilam, menyiapkan segala keperluan rumah tangga,mengurus suami dan anak-anak, juga mertua dan ipar-ipar, itu berarti mencuci, memasak, memandikan anak, memberi makan ayam dan babi, semua kegiatan yang bermula sejak subuh buta sampai tengah malam. Tak henti-hentinya.

Tapi semua itu tak memberi pembenaran untuk mengeluh. Tradisi biarlah begitu. Bagi Mariani mensiasati posisi kaumnya dalam budaya jauh lebih penting. “Itu sudah jelas, tanggungjawab kita wanita Mentawai, tapi bukan berarti tak bisa melakukan yang lain,” katanya enteng.

Posyandu
Menurut Mariani di Salappa’ ada kegiatan Posyandu, bahkan kegiatannya teratur setiap bulan. “Pada minggu-minggu pertama atau kedua setiap bulan,” katanya. Bagaimana kalau ada yang melahirkan? “Tak masalah, di sini ada 4 dukun bayi, semuanya terlatih, juga ada 5 kader Posyandu yang siap dilatih untuk membantu-bantu kalau nanti Pustu sudah bisa beroperasi dengan tenaga medis dari kabupaten,” katanya.

Mariani menegaskan memang ada sedikit masalah dengan kader-kader kesehatan dusun yang berusia tua, soalnya mereka selalu kesulitan dalam mengikuti pelatihan-pelatihan kesehatan. “Pelatihan umumnya kan berbahasa Indonesia, mereka kesulitan, maklum orang tua, akhirnya banyak yang mengundurkan diri, tapi yang baru-baru dan muda-muda masih banyak, asal rajin mengikuti pelatihan saya rasa takkan ada masalah,” katanya optimis.

Sekarang, menurut Mariani, ada 35 balita dan ibu hamil yang rutin ke Posyandu. “Mereka sudah sadar bahwa kesehatan kandungan dan balita itu sangat penting dan harus selalu dipantau,” ujar perempuan yang tak sempat menamatkan pendidikan di SMP ini, tapi terkenal cerdas dan pernah menjadi ketua OSIS di sekolahnya SMPN 1 Muara Siberut.

Menyulam
Merajut, menyulam, menenun semuanya adalah pekerjaan asing untuk wanita Mentawai, termasuk wanita Mentawai di Salappa’. Keahlian mereka adalah menganyam dan menjahit. Rotan, kulit rotan, bambu, pelepah sagu bisa mereka anyam dan jahit menjadi jaragjag (tikar rotan), opa (keranjang rotan), bakhulu (tas kerja kerei), balokbok (tempayan sagu), tapri (wadah tempat menyimpan tepung sagu). Tapi kalau harus merajut renda, menenun kain atau menyulam mereka menyerah.

“Bukan tak bisa tapi tak biasa, jadi kalau rajin belajar kami pasti bisa,” kata Maryani. Dan dia melihat kesempatan dan pentingnya belajar ketrampilan-ketrampilan tersebut. “Mentawai punya motif-motif yang berbeda dan unik, kalau ada yang mengajari kami mengubahnya menjadi cendera mata cantik, saya yakin kami akan memiliki sumber mata pencarian sampingan baru yang kalau diseriusi akan sangat membantu ekonomi keluarga,” katanya lagi.

Kuliner
Peluang serupa serupa juga dilihatnya di bidang makanan (kuliner), meski dalam bentuk yang sangat sederhana. “Wanita di sini bisa membuat keripik dari pisang dan keladi, masalahnya sama saja, tidak biasa, bukan tidak bisa,” katanya.

Dia tidak mempersoalkan pasar dan pemasaran. “Setiap Selasa kan ada pasar mingguan di Muara Siberut. Pisang dan keladi banyak sekali di sini, sementara minyak goreng bisa dibuat dari kelapa. Kuali penggorengnya juga tak kurang. Ajari kami, lalu para suami bisa membawa olahan kami itu setiap Selasa dengan pompong ke Muara,” ujar dia yakin.

Mariani tahu cemilan semacam itu harus dikemas dengan kemasan yang baik, sehat dan cantik. “Kita sudah sering melihat contohnya di Muara, tak masalah,” katanya lagi. “Plastik bening pun cukup.”
2:02 AM | 0 komentar

Kepala Desa Magang

Joel Salaisek tak bisa menyembunyikan kegundahan hatinya. Sepulang dari Musrenbang tingkat desa di Muntei dia lebih banyak berdiam diri. Ternyata—setelah ditanya--Ketua Dewan Adat Dusun Salappa’ itu masgul karena sedih melihat nasib kepala desanya, Tulutogok Tasiripoula.

“Dalam Musrenbang kemarin Pak Kades seperti magang saja, yang dominan bicara tetap kepala desa lama Pak Viktor Sagari, bagaimana ini?” keluhnya.

Menurut Joel, tak sepantasnya hal tersebut berlaku. “Ini sudah hampir habis empat bulan setelah Talud terpilih sebagai Kepala Desa Muntei, seharusnya kan tiga bulan setelah terpilih dia harus sudah dilantik,” imbuh mantan anggota P4KD (Panitia Pencalonan dan Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa) Muntei tersebut.

Kerisauan yang sama diperlihatkan tokoh masyarakat yang lain seperti Anselmus Sadodolu, Markus Sabailati, dan lain-lain. “Ini tidak bisa dibenarkan, tak ada alasan sebenarnya untuk menunda-nunda pelantikan,” kata Anselmus yang diiyakan Markus. “BPD (Badan Perwakilan Desa) harus mencari kejelasan persoalannya, dan mendesak pelantikan, kalau perlu sampai ke Tuapeijat,” kata Anselmus.

Menurut mereka kalau kepala desa terpilih tidak bisa menjalankan roda pemerintahan desa, bisa terjadi kerancuan kepemimpinan. “Ini berarti sama saja dengan menjadikan proses pemilihan November lalu itu sia-sia,” tambah dia. ran
2:01 AM | 0 komentar

Kepala Desa Terganjal SK



Semangat boleh menggebu, tapi legalitas tetap perlu. Itulah yang terjadi di Salappa’, tak kunjung dilantiknya Kepala Desa Muntei, yang membawahi Dusun Salappa’, Muntei dan Puro II, membuat semua aktivitas pembangunan terganggu.

Oleh Imran Rusli

Kepala Desa Muntei telah terpilih sejak 3 November tahun lalu, Tulutogok Tasiripoula, belum juga dilantik, padahal kalau menurut Peraturan Bupati Kepulauan Mentawai seharusnya pelantikan dilakukan paling lambat tiga bulan setelah terpilih. Tapi nyatanya, janankan dilantik SK-nya pun belum pernah dilihat Tulut.

“Katanya SK saya sudah turun, tapi entah siapa yang pegang, saya belum pernah melihat,” ujarnya ketika ditemui Puailligoubat Rabu (11/2) di tempatnya mengajar,SD Filial Santa Maria, Salappa’. Dia mengaku tidak mengerti kenapa harus seperti itu. “Saya dengar pelantikan baru akan dilakukan setelah pemilu,” katanya lagi.

Belum dilantiknya kepala desa membuat warga Salappa’ resah. “Soalnya alasannya tidak kuat sementara masalah yang ditimbulkannya banyak,” ujar Anselmus Sadodolu, pengurus PS3 (Parurukat Siberikabaga Siberut Selatan) Kecamatan Siberut Selatan yang juga tokoh masyarakat Salappa’.

Masalah itu antara lain program-program dusun tidak bisa dirancang dan dijalankan, karena tidak bisa dilepaskan dari kebijakan desa. Masalah lainnya terjadi kerancuan gaji kepala desa. “Gara-gara belum dilantik kepala desa baru belum bisa menjalankan operasional pemerintahan sepenuhnya, sebaliknya kepala desa lama seperti tidak bisa melepaskan posisinya di pemerintahan, gaji mereka juga harus dibagi dua, misalnya gaji Desember 2008 dan Januari 2009, ini kan bikin bingung masyarakat seperti kapal yang dinakhodai dua orang,” ungkap Joel Salaisek, Ketua Dewan Adat Salappa’.

Usai Pemilu
Tak puas dengan belum berfungsi penuhnya kepala desa, warga Salappa’ pernah menanyakan masalahnya ke kecamatan. Jawabnya, pelantikan setelah pemilu bulan April,” ujar Kepala Dusun Salappa’ Markus. Jawaban ini membuat masyarakat makin bingung dan berprasangka macam-macam.

“Yang sibuk pemilu kan KPU, bukan bupati. Lagipula ini peraturan bupati sendiri, bahwa tiga bulan paling lama setelah kepala desa terpilih dia harus sudah dilantik, nah ini faktanya sudah mau habis 4 bulan, kapan kepala desa akan bekerja?” kata Joel Salaisek.

Menang Mutlak
Tulutogok Tasiripoula memenangkan pemilihan Kepala Desa Muntei 3 November 2008. Dari 4 kandidat kepala desa yang maju, yakni Tulutogok Tasiripoula dari Dusun Salappa’, Agustinus Sagari dari Dusun Muntei, Viktor Sagari dari Dusun Muntei dan Stephanus Nahung dari Beikeluk, Tulut meraih 170 suara. Sisanya, sekitar 300 suara, diperoleh 3 kandidat lainnya.

“Saya menang karena warga Salappa’ dan Beikeluk kompak memberikan suara mereka kepada saya, saya sungguh salut dan berterima kasih,” kata Tulut yang selain menjadi guru pernah menjadi pengelola Perpustakaan Palingen yang didirikan YCM (Yayasan Citra Mandiri) di Salappa’ tahun 2006.

Kelompok Tani
Tapi karena belum dilantik Tulut yang memilih tetap bertempat tinggal di Salappa’ meski tiap hari turun ke Muntei, tak bisa sepenuhnya menjalankan tugas. Padahal di kepalanya sudah banyak program yang minta segera diimplementasikan. Misalnya peningkatan ekonomi masyarakat.

“Kami di Salappa’ ini punya problem mata pencarian,” katanya. Sumber ekonomi cukup banyak tapi tak ada yang bisa difokuskan. Dalam bahasa Kepala Dusun Salappa’, warga tidak bisa fokus menjalankan perekonomiannya karena tidak ada komoditi yang menghasilkan secara berkesinambungan.

Sumber ekonomi itu sendiri cukup banyak, misalnya nilam, coklat, kelapa, pinang, keladi, pisang, sagu, manau, sasa (rotan), tapi semuanya insidentil sifatnya. “Harga tak pernah stabil, selalu naik turun, sementara biaya yang kita keluarkan untuk berproduksi tak pernah turun, selalu naik, akibatnya kita tak pernah fokus dengan satu sumber ekonomi,” kata Markus.

Karena Tulut, sebagai Kepala Desa Muntei yang baru, mempunyai program khusus untuk Salappa’, yakni pertanian terpadu lewat pembentukan kelompok tani. “Misalnya coklat, selama ini masyarakat berkebun coklat secara terpisah-pisah, akibatnya tanaman mereka gampang rusak diserang hama. Kalau bersama-sama kan bisa kita pecahkan bersama masalahnya,” kata Tulut.

Menurut Tulut warga Salappa sudah cukupmelihat pengalaman petani di daerah lain, seperti di Muntei atau Puro. Dari pengalaman itu mereka sudah tahu, keberhasilan takkan bisa dicapai sendiri-sendiri. “Tikus, tupai, musang, kelelawar, semut bisa dihadapi bersama dengan mengatur masa tanam, kita bisa menjaga kebun bersama-sama dan meningkatkan produksi, tentu saja bimbingan PPL (petugas penyuluhan lapangan) sangat kita butuhkan, PPL yang tak sekedar minta tanda tangan kepala desa maksud saya,” katanya sambil tersenyum menyindir (Puailiggoubat pernah memberitakan tentang PPL yang kerjanya cuma minta tandatangan kepala desa, tidak bekerja sebagaimana mestinya).

“Saya juga akan mendorong pembukaan kebun coklat tanpa merusak lahan sagu, karena sagu itu basis pangan kami, tidak boleh dirusak,” tegasnya.
1:57 AM | 0 komentar

Sharing

Popular Posts