Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  #  |  need help ?
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Menikmati Senja di Pantai Mapaddegat

Written By imran rusli on Sunday, February 8, 2009 | 11:36 PM

Pantai Mapaddegat, Kecamatan Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah oase bagi penghuni ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai, Tuapeijat. Meski hanya menyajikan pantai dan ombak tok, ratusan orang memadatinya setiap minggu, termasuk para pegawai negeri yang bertugas di Mentawai dan keluarga mereka yang kebetulan berkunjung.


Hari libur, Sabtu dan Minggu, tatkala sore dan senja menjelang matahari terbenam adalah waktu terfavorit bagi para pengunjung untuk datang ke Pantai Mapaddegat. Mereka datang secara per orangan atau berkelompok. Jalan kaki, bersepeda motor atau mengendarai mobil dan menumpang angdes (angkutan pedesaan). Tua, muda, remaja, sampai anak-anak, lelaki perempuan senang sekali ke pantai ini. Mereka lalu mengambil tempat di pasir pantai yang lembut. Ada yang duduk memandang laut, ada yang bermain pasir, ada yang berbaring menikmati hembusan angin semilir, ada pula yang langsung buka baju dan menceburkan diri ke air laut yang tenang.

“Airnya bikin kita tergila-gila, begitu tenang dan menghangatkan,” ujar Dewi, 23 tahun, anggota keluarga PNS yang bekerja di salah satu instansi. Dewi dan temannya Diana hanya mengunjungi saudaranya di Tuapeijat, tapi begitu melihat Mapaddegat mereka langsung kepincut.

“Nggak nyangka pantainya sebagus ini, padahal dulu bayangan saya tentang Mentawai ini aduuuh, pokoknya serba ketinggalan lah,” katanya lagi.

“Pantai Tuapeijat juga bagus, tapi sayang masyarakat sekitar tidak menjaga kebersihannya, bahkan ada yang membuat kakus di pantai, sayang sekali padahal pasirnya jauh lebih halus dan bersih dibanding Pantai Mapaddegat,” ujar Diana, 24 tahun, menambahkan. Tanpa segan-segan keduanya mengakui dibanding Pantai Padang (Taplau) Pantai Mapaddegat jauh lebih cantik.

“Kurangnya kan sarana kuliner dan akomodasi saja, selebihnya Mapaddegat toplah,” kata Dewi.

Tak ada kata lain selain kata indah, cantik, mempesona ketika berkunjung. melihat dan menikmatinya. Ibaratnya Pantai Mapaddegat itu umpama gadis cantik alami, begitu indah dan anggun. Tanpa BB (bau badan) tentunya!

Pantai yang landai, berpasir halus, teluk yang tenang beriak kecil-kecil, deretan pohon kelapa yang menjadi pagar alami, membuat pengunjung betah. “Hari Minggu rasanya kurang lengkap bila tidak ke Pantai Mapaddegat”, kata Ana (18 th), seorang remaja yang hampir tiap minggu sore nongkrong di pantai tersebut.

Sunset, Selancar, Voli Pantai dan Pacaran
Salah satu pesona Pantai Mapaddegat adalah sunset. Matahari yang berubah jingga lalu merah dan perlahan-lahan hilang di balik horizon adalah pemandangan yang tak puas-puasnya dinikmati pengunjung. Padahal sunset itu juga ada di pantai-pantai lain, cuma cara menikmatinya tak bisa disamakan dengan yang di Pantai Mapaddegat. “Bisa sambil tiduran sambil minum air kelapa muda,” kata Ida dari Yayasan Citra Mandiri (YCM).

Pasangan muda juga suka sekali menelusuri pantai sambil mengikat janji. Mereka akan berjalan menyusuri garis pantai menuju ke utara. Di batu karang besar atau di pokok kelapa mereka berbagi pose, gantian berfotoria. Tapi karena bagian pantai yang itu sangat sepi banyak juga yang menggelincirkan diri, bermesraan tak terkendali. Sampai-sampai Mateus Samalinggai, artis Mentawai, mengeluh.

“Concaik begini nih yang bikin rusak pantai ini,” katanya. Concaik adalah istilah yang dipopulerkan Mateus. Tapi yang namanya anak muda, susah melarangnya. Kerimbunan semak di bibir pantai itu benar-benar menggoda untuk dimanfaatkan. Seperti hotel gratis saja yang siap melayani pemadu cinta. Untuk mengatasi hal ini Plt Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Mentawai, Drs M Tamba, mengatakan akan mengadakan semacam tim patroli pantai, yang akan merazia pantai secara berkala.

Banyaknya surfer (peselancar) yang datang untuk menikmati ombak Mentawai yang katanya nomor dua terbaik di dunia, telah menimbulkan virus surfing ke anak-anak setempat. Maklum, salah satu ombak favorit para surfer ada di lepas Pantai Mapaddegat, namanya teleskop. Panjangnya sekitar 100 meeter. Sepanjang sore di hari Minggu atau hari libur lainnya, para surfer lokal ini memadati muara Sungai Mapaddegat, berselancar di sana. Suaranya riuh rendah penuh gelak tawa dan keriangan bocah-bocah. Peselancar yang remaja lebih suka bermain di ombak yang kadang-kadang membesar saat pantai diterpa badai atau angin kencang.

Jaraknya yang tidak jauh dari pusat ibukota kabupaten, yakni sekitar 6 kilometer membuat Pantai Mapaddegat sangat mudah dicapai. Jalannya juga bagus karena sudah dirabat beton selebar kurang lebih 4 meter.

Bagi warga Dusun Mapaddegat, keindahan pantai ini sempat menimbulkan harapan, karena tahun 2006 Pemkab sempat membangun home stay seharga hampir Rp6 milyar, yang terus dibangun sampai tahun 2008, tapi kemudian ditinggalkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban yang jelas, sehingga sekarang menjadi tempat favorit bagi sapi dan kambing untuk berkencan. Gabriela Sapitini dan Martina Kambing Meringis sering terlihat dibawa pacar masing-masing ke sana, karena di situ ada lapangan tenis yang sangat representatif untuk para tamu ekslusif dari mancanegara atau ibukota.

“Harapan kami sirna, karena Pemda lebih suka mengorupsi proyek tersebut,” ujar seorang wara Mapaddegat yang mengaku bernama Martinus.

Seperti ingin menebus kesalahan, Drs Tamba mengatakan, berbagai upaya akan tetap dilakukan Pemkab untuk menambah daya tarik Pantai Mapaddegat. “Kita akan selenggarakan berbagai iven di pantai, seperti voli pantai, surfing contest, di samping patroli wisata dan penjaga pantai (baywatch). Itu sudah menjadi program dinas tahun ini,” katanya.

Abrasi
Sayangnya ada satu warung di pantai tersebut. Itupun sederhana sekali. Makanan yang dijual tidak beragam dan tampak kurang memenuhi standar higienis.

Selain itu warga terus mengambil pasir pantai untuk dijual sebagai material bangunan. Lama-lama pantai tersebut dikuatirkan bisa rusak tak berbentuk dan masyarakat setempat akan kehilangan sumber ekonomi yang jauh lebih besar dibanding hanya sekedar pasir pantai. Ingat Pantai Gandoriah di Pariaman. Sekarang warga sekitar pantai itu sudah banyak yang kaya karena menjual nasi sek, bukan menjual pasir pantai.(imran rusli dan bambang sagurung).
11:36 PM | 0 komentar

Berkunjung ke Kampung Rang Talu

Written By imran rusli on Thursday, January 29, 2009 | 4:27 AM

Nama Talu mungkin sudah tak asing lagi bagi warga Sumatra Barat, terutama karena ada nyanyiannya ‘Rang Talu’, atau legenda ‘Kuburan Duo’. Sebenarnya ada hal-hal menarik lain dari nagari yang termasuk Kenagarian Talu, Kecamatan Tala’mau, Kabupaten Pasaman Barat ini. Misalnya view Gunung Tala’mau, arus deras di Batang Talu dan Batang Sinuruik, permandian air panas, air terjun dan sebagainya.


Oleh Imran Rusli

dr Fadlan Maalip SKm, Tuanku Bosa XIV, intelektual sekaligus Ketua KAN dan Pucuak Adaik Nagari Talu bahkan mengatakan dia sudah mendokumentasikan 9 obyek wisata menarik di Talu dan Sinuruik ke dalam sebuah lempeng compact disc (CD). CD tersebut kelak akan diperbanyak dan disebarluaskan ke relasi Rang Talu yang ternyata banyak juga di Malaysia.

“Jumlah sekitar 800 KK, terutama di Johor dan sekitarnya,” kata Tuanku Bosa XIV dalam perbincangan dengan padangmedia.com di gedung KAN Talu, yang sekaligus menjadi kantornya.

Sayang padangmedia.com takbisa mengunjungi satupun , karena jadwal di Talu cuma sehari, itupun lebih untuk tujuan lain, yang tak ada hubungannya dengan rekreasi.

Dengan mobil, Talu bisa dicapai dalam waktu sekitar 4 jam. Berangkat pukul 07.30 WIB, sampai pukul 11.30 WIB. Kondisi jalan cukup bagus, meski di Bawan, Kinali, sampai Simpang Ampek jalan berlubang di sana-sini. Ruas jalan dari Simpang Gudang, Manggopoh, Kabupaten Agam ke Simpang Ampek, Kabupaten Pasaman ini memang sudah agak lama rusak dan belum ada tanda-tanda akan diperbaiki.

Namun semua itu tidak mengurangi rasa kenikmatan perjalanan, apalagi perut sudah terisi nasi panas dan gulai ikan segar dari RM Buyung di Tiku. Rasanya pantat yang lenyai karena terbanting-banting oleh kondisi jalan yang buruk tersebut sudah terlupakan saja.

Pertama masuk Nagari Talu, kesan rapi, damai dan tentramnya sudah terasa. Masyarakatnya juga sangat ramah, kecuali tukang ojek yang menawarkan ojek sambil memelototkan mata, entah belajar manajemen pemasaran di mana dia? Selebihnya hanya keramahan yang terasa, meski masyarakat tampaknya sudah terpecah-pecah ke berbagai bendera, spanduk, papan nama dan baliho partai-partai politik dan caleg yang diusung partai-partai tersebut. Mereka menyimpannya dalam keramahan yang santun dan hangat.

Kesan rapi itu ternyata tak sembarangan. Sejak awal abad ke-20, Talu ternyata sudah sangat maju, melebihi Lubuak Sikapiang, ibukota Kabupaten Pasaman, yang dulu menjadi induk bagi kawasan Talu, Sinuruik, Kajai dan Kabupaten Pasaman Barat sendiri. Seperti diungkapkan Tuanku Bosa XIV. “Sejak tahun 1920 Talu sudah punya jaringan air minum, rumah sakit, lembaga pemasyarakatan sendiri, bahkan Kantor Polres baru pindah ke Lubuak Sikapiang tahun 1980,” kata dr Fadlan.

Ny Hj. Nurmal Maalip, mantan anggota DPRD tiga periode (1984-1999) dan tokoh Bundo Kanduang serta aktivis Aisyiah Kabupaten Pasaman, tempat padangmedia.com menginap mengatakan hal senada. “Talu memang sudah lebih dulu maju dari induknya, saya juga tidak tahu kenapa,” kata ibu yang ramah yang sekarang berusia 75 tahun tapi masih sangat segar secara fisik dan pemikirannya itu.

Sarat Fenomena Sejarah
Dari perspektif pariwisata, kalau kita hanya nongkrong di Talu saja memang tak ada yang menonjol. Fasilitas tempat hiburan tak tersedia, poenginapan juga seadanya, hanya sebuah wisma dekat kantor camat Tala’mau, yang kata Wali Nagari Sinuruik, Masrivelli SSos, kurang diminati pengunjung.

“Mungkin karena Simpang Ampek dekat, pengunjung Talu dan Sinuruik lebih banyak menginap di Simpang Ampek,” kata alumnus jurusan Antropologi Fisip Universitas Andalas ini menjelaskan. Jarak dari Talu ke Simpang Ampek memang hanya sekitar 30 kilometer, tapi ongkos angdes (angkutan pedesaannya) Rp10.000 lho.

Di luar itu, sebenarnya banyak hal menarik di Talu, misalnya fakta sejarah bahwa rumah Hj Nurmal pernah dijadikan markas Pembela Natsir, tokoh Masyumi, mantan Perdana Menteri era rezim Sorkarno, yang baru saja diakui negara sebagi Pahlawan Nasional dari Sumatra Barat. Di rumah yang berlokasi di kawasan Bangkok, Kenagarian Sinuruik ini, ini Presiden PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) Syafruddin Prawiranegara pernah menyelenggarakan rapat-rapat penting bersama tokoh-tokoh politik lainnya.

Ketika Gubernur Azwar Anas berkunjung ke Talu untuk menghadiri suatu acara Muhammadiyah, dia lebih suka tidur di rumah Hj Nurmal, padahal rumah yang lebih bagus sudah disediakan untuk dia dan anggota rombongan Muspida Sumbar lainnya. “Ketua Umum DPP Muhammadiyah juga pernah menginap di rumah kayu kami yang sederhana ini,” kata Hj Nurmal merendah.

Keseharian Nan Eksotik
Lebih dari itu, yang lebih menarik dari Talu dan Sinuruik adalah suasana kesehariannya yang sangat kental nuansa tradisionalnya. Masyarakat di kedua nagari yang berdampingan ini hidup dari pertanian. Sawah yang luas terhampar di mana-mana, lengkap dengan iring-iringan itik di pematangnya dan kincir air dari kayu di sekelilingnya. Kincir air yang sama juga dipakai untuk menumbuk padi dan kopi. Sementara di setiap sudut terjemur hamparan buah pinang yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi Rang Talu. Mereka suka mengunyahnya begitu saja.

Yusuf, anak Bukiktinggi yang besar di Jambi dan kini bekerja sebagai supir pribadi dr Fadlan mengungkapkan bahwa masyarakat setempat biasa makan pinang di setiap kesempatan. “Sudah seperti rokok, masyarakat begitu lekat dengan buah pinang, sampai-sampai saya juga ketularan,” katanya.
Kita bisa menemukan hamparan buah pinang ini mulai dari Pasar Talu Sinuruik yang ramai di hari Rabu, sampai ke pedalaman Sinuruik di perbukitan. Ibu-ibu tua menjemur pinang dengan kasih sayang, mengurai-urainya setiap saat, membolak-balik agar rata disinari matahari. Buah pinang ini dijemur di jalan-jalan kampung dan jorong yang rata-rata sudah dibeton semua. Kadang-kadang dijemur dengan gardamungu, komoditas lain yang juga telah banyak menopang kehidupan masyarakat Talu Sinuruik sejak dulu.

Kacang Tanah dan Gula Aren
Dua komoditas lain yang menonjol di Talu dan Sinuruik adalah kacang tanah dan gula aren. “Kacang tanahnya tak kalah dengan Kacang Garuda,” kata dr Fadlan berpromosi. Pemilik sebuah sekolah tinggi ilmu keperawatan di Jambi ini menceritakan bagaimana kacang tanah Talu yang dikemas dengan baik bisa laris manis seperti Kacang Garuda di supermarket-supermarket Jambi. “Sayang di Talu sendiri kemasan belum diperhatikan, kacang tanah berkualitas seperti itu masih dibungkus dengan plastik transparan saja,” katanya.

Gula arennya juga tak kalah menarik. “Kalau ada waktu longoklah petani aren kami mengolah gula aren, lihat bagaimana mereka memanjat dengan bambu sebatang, lalu memukul-mukul lembut tandan aren sambil bersenandung, menunggu dengan sabar gula aren mengalir ke bumbung,” paparnya.

Koto Dalam
Daya tarik alam dan keseharian ini masih dilengkapi dengan daya tarik budaya. Di tanah kelahiran, di Koto Dalam, Kenagarian Talu, dr Fadlan selaku pewaris gelar adat Tuanku Bosa sedang membangun sebuah rumah gadang.

“Saya maksudkan sebagai Rumah Gadang Tuanku Bosa, pengganti rumah gadang lama yang sudah diruntuhkan. Dibanding yang dulu rumah gadang yang ini tak ada apa-apanya, karena tiang-tiang rumah gadang yang dulu saja dibuat dari kayu utuh yang sangat besar, kalau main sembunyi-sembunyian, kita bisa sembunyi dalam rongganya,” ungkap dia.

dr Fadlan berharap rumah gadang itu kelak bisa menjadi pusat dokumentasi sekaligus informasi tentang adat-istiadat Talu Sinuruik bagi siapa saja yang berminat. “Terutama masyarakat Kenagarian Talu dan Sinuruik sendiri, serta para peneliti budaya dan pelancong, yang tertarik dengan budaya Talu Sinuruik,” kata pemuka adat yang tengah menanti kedatang rombongan pelancong dari Malaysia ini. “Sekitar 20 rombongan dari Malaysia sudah merencanakan kunjungan ke Talu Agustus nanti, kita harap rumah gadangnya sudah siap menyambut mereka,” katanya lagi.
4:27 AM | 2 komentar

Sensasi Air di Mifan

Written By imran rusli on Thursday, January 1, 2009 | 5:06 AM

Ke mana Anda merayakan tahun baru? Minang Fantasy (Mifan) di Kota Padangpanjang, mungkin bisa jadi pilihan. Dijamin puas, terutama kalau Anda tergolong ‘gila air’.

Tanpa banyak gembar-gembor, Padangpanjang sudah mengukuhkan diri sebagai daerah tujuan wisata utama di Sumbar, setiap hari libur sekitar 10.000 pengunjung dari 19 kota/kabupaten di Sumbar meluruk ke kota ini, begitu juga pengunjung dari provinsi tetangga seperti Riau, Kepri, Bengkulu, Sumsel, Jambi dan Sumut. Tak lama lagi diprediksi Padangpanjang akan menggeser dominasi Bukiktinggi sebagai kota tujuan wisata utama di Sumbar, yang saat ini masih menang karena memiliki fasilitas hotel yang lengkap (55 unit), sehingga wisatawan yang ingin ke Padangpanjang pun masih harus menginap di Bukiktinggi.

Semua itu karena Mifan, Minang Fantasy, water park (taman air) seluas 10 hektar yang dibuka di lokasi Minangkabau Village lama, tepatnya di Kelurahan Silaiang Bawah, Kecamatan Padangpanjang Barat, Kota Padangpanjang. Sejak dibuka Juli 2008, ratusan ribu pengunjung sudah menikmati sensasi air yang disajikan oleh 9 wahana kolam air (kolam luncur spiral, kolam luncur lurus, kolam anak, ember tumpah, kolam ombak, kolam arus, kolam renang Niagara, ban elektrik, dan sekitar 10 wahana lainnya seperti bom bom car, karosel, kincir putar, teko putar, jet coaster mini, kereta wisata, bumper boat, camping ground, outbound dan banyak lagi yang lain.

Dari Padang jaraknya hanya 68 kilometer dan dari Bukiktinggi lebih dekat lagi hanya 13 kilometer. Tarif masuknya juga murah, hanya Rp35 ribu. Kalau ingin menikmati semua wahana tanpa harus membeli tiket lagi di setiap wahana, yang harga rata-ratanya Rp10 ribu, tersedia tiket terusan yang harganya Rp75 ribu per orang. Harga-harga ini tidak berlaku untuk anak-anak di bawah 2 tahun, yang tentu saja memang belum bisa menikmati sensasi Mifan. Ya iyalah, bisa apa anak umur 2 tahun, masuk kolam juga langsung lewat.

Bandingkan dengan biaya yang harus Anda keluarkan untuk menikmati water park sekelas Mifan yang rata-rata baru ada di Jawa dan Bali. Ke Gelanggang Renang Dufan (Dunia Fantasi), Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta saja misalnya, Anda harus keluar uang paling sedikit Rp5 juta per orang untuk transportasi pp, akomodasi dan makan minum saja, belum biaya emosi dan biaya perangai (tau kan maksudnya?).

Mifan sebenarnya dibuka setiap hari, mulai jam 08.00 WIB, sampai pukul 20.00 WIB, tapi pengunjung lebih banyak datang di hari libur. Minggu 21 Desember lalu, pengunjung sudah membludak pada pukul 09.00 WIB, mereka berdatangan dari Padang, Pariaman, Maninjau, Pasaman, Pariaman, Bukiktinggi, Payokumbuah, Solok, Sawahlunto, Sawahlunto Sijunjuang, Dharmasraya, Sitiung, Solok Selatan, Painan, Bangkinang, Pekanbaru, Bengkulu, Palembang dan lain-lain.

Banyak yang bawa tikar dan rantang makanan sendiri, karena soal yang satu ini memang masih minim di Mifan. Ada satu rumah makan, tapi tampaknya tak begitu diminati pengunjung, mungkin karena sama saja dengan rumah makan di luar Mifan dan susananya kaku sekali dan mungkin mahal—baca tak wajar harganya--juga. Jadi tak ada daya tariknya makan di situ.

Main Air Sepuasnya
Meski banyak sekali wahana di Mifan, wahana airnya lah yang lebih digilai pengunjung. Warman (41), pengunjung dari Bangkinang, Riau, mengatakan wahana air di Mifan tidak kalah asyiknya dibanding Dufan, atau water boom di Bali. Hal ini dibenarkan Drs Zulkarnain Harun MSi, Kepala Dinas Pariwisata Padangpanjang yang waktu itu—Minggu 21 Desember--sedang berada di Palopo, Sulawesi Selatan.

“Mifan ini water park nomor.2 terbaik di Indonesia, dan nomor satu di Sumatra,” katanya. Im Depry, mitra Mifan dari Bank Bukopin membenarkan dan menambahkan, kualitas air di Mifan selalu dijaga dengan baik. “Biaya perawatan wahana air di Mifan sangat besar, berkisar Rp2 juta – Rp5 juta per hari,” katanya. Karena itu wajar kalau dikatakan bahwa selain segar, air di Mifan juga sehat, tak kan menimbulkan iritasi atau ruam di kulit, meski digunakan oleh sampai 10 ribu pengunjung setiap hari, seperti jelang lebaran kemarin.

Shanti (18), pengunjung dari Pekanbaru lain lagi komentarnya. “Kolam ombak sungguh asyik, kita seperti merasa di laut betulan, meski tentunya lebih aman, apalagi ada pelampung besar dan safeguard, pokoknya kami benar-benar enjoy di Mifan ini,” katanya sambil merangkul Andre (10), adik laki-lakinya. Ada dua jenis pelampung, single dan double. Single Rp10.000, double Rp15.000. Jumlahnya banyak sekali, semua pasti kebagian.

Setiap wahana di Mifan memang dikawal safe guard, masing-masing satu untuk setiap wahana. Mereka selalu waspada dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Yang lebih profesional, di Mifan juga siaga sebuah ambulans, dengan dua tenaga media dan dua supir. Menurut Eky Harjoni Amd. Kep, paramedis yang bertugas hari itu, ambulans tersebut ditempatkan di situ atas kerjasma Mifan dan RSUD Padangpanjang. Tersedia fasilitas medis pendukung seperti obat-obatan dan perangkat P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan).

“Kasus-kasus yang kami tangani selama ini antara lain luka ringan, lecet, trauma, gagal nafas, dan semacam itu, kalau yang berat-berat seperti serangan jantung langsung dibawa ke RSUD untuk mendapat perawatan di IGD (Instalasi Gawat Darurat),” kata Eky. Dia menambahkan rata-rata dalam sehari mereka menelayani 10 pasien. “Tapi belum pernah ada yang parah, rata-rata cedera ringan dan semoga tetap begitu.” Ya jangan sampai ada yang meninggal di Mifan lah, soalnya ngggak pas banget untuk dijadikan lokasi meninggal.

Hotel
Penginapan adalah masalah besar bagi Padangpanjang, terutama untuk menampung pengunjung Mifan yang makin lama makin banyak, karena peningkatan jumlah wisatawan ke Padangpanjang, menurut Zulkarnain Harun, sudah sangat signifikan. Meski belum bisa memberi angka, Zul memastikan peningkatan jumlah pengunjung sangat drastis, tapi Padangpanjang belum untung, karena uang untuk hotel masih dikeruk Bukiktinggi.

“Kita sangat rugi, karena belum punya hotel yang representatif, pengunjung masih menginap di Bukiktinggi,” ungkap Zul.

Padangpanjang memang belum punya hotel satupun, penginapan dan wisma ada sekitar 6 unit, tapi kondisinya pas-pasan, belum cocok untuk wisatawan, karena lebih ditujukan untuk pedagang keliling. “Kamar mandinya di luar, mandinya pakai ember dan gayung, kalaupun ada yang di dalam, kamar mandi dan toiletnya sempit, sehingga tidak nyaman digunakan,” ujar Isril, warga Silaiang Bawah. Tarifnya rata-rata murah, hanya Rp50 ribu – Rp60 ribu, tapi ya itu tadi, minus kenyamanan. Banyak nyamuk sih, belum bau dindingnya yang apak.

Dalam kawasan Mifan sendiri ada 5 rumah gadang yang disewakan. Semalam tarifnya Rp2 juta, tapi rumah gadang ini ibarat penthouse di hotel-hotel berbintang, karena memiliki dapur sendiri, ruang tamu, beranda, ruang makan, ruang tengah,kamar mandi besar dan dua kamar tidur. Dua keluarga dengan 20 personil bisa menginap di sini, atau sekitar Rp100 ribu per orang.

Tapi pengunjung masih kurang berminat karena fasilitasnya minim. Tak ada TV berlangganan, malam sangat sepi tak ada atraksi apapun (jadi betul-betul hanya untuk tidur, kecuali bikin acara sendiri seperti bakar-bakar ayam dan ikan (tapi nggak smapaibakar-bakar Mifan lah), nyanyi-nyanyi karakoean dan lain-lain), kamar mandi dan toilet terbatas, meski toilet di Mifan rata-rata bersih dan cukup banyak, tapi jauh dari rumah gadang tempat menginap.

“Klien kami dari Chevron atau RAPP sering mengeluhkan minimnya fasilitas hotel ini, kalau ada investor yang mau membuka hotel atau penginapan yang lebih sesuai dengan kebutuhan wisatawan, pasti kami dukung,” kata Zulkarnain. Benar Elfa?

Yang datang ke Mifan memang bukan keluarga saja, tapi juga rombongan dari sekolah, perguruan tinggi, perusahaan, atau organisasi massa. Untuk kelompok ini ada lagi diskon khusus, sekitar 10 – 20 persen. Minggu 21 Desember kemarin rombongan dari ACC (perusahaan pembiayaan otomotif) dan MAN Bangkinang terlihat dalam kerumunan massa. Mereka membuat acara sendiri.

Makan Enak
Kalau Anda dan keluarga tak membawa makanan dari rumah, tak masalah. Setelah capek menikmati sensasi air di obyek wisata seharaga Rp115 milyar ini, Anda bisa ke RM Pak Datuk atau Sate Mak Syukur. Tak sampai 5 menit dari lokasi. Nyam nyam, dengan sekitar Rp20.000 per orang Anda sekeluarga sudah bisa makan enak sekenyangnya. Makanya, tunggu apa lagi ayooo buruan ke Mifan!
5:06 AM | 0 komentar

Siberut Selatan, Pusat Wisata Budaya Mentawai

Written By imran rusli on Friday, December 19, 2008 | 3:04 AM

Di mana Anda bisa menyaksikan lianuma (ritual peresmian uma baru), lianabag (ritual peresmian sampan baru), ritual perkawinan, ritual kematian, pabbetei (ritual pengobatan), perburuan sebagai tahap pembukaan dan penutupan lia atau punen, ritual pengangkatan kerei atau sikerei (dukun) baru, paabad (ritual perdamaian) dan berbagai aktivitas sosial berbasis kebudayaan Mentawai lainnya saat ini? Jawabnya di kecamatan Siberut Selatan.

Meski sekarang Kecamatan Siberut Selatan sudah dibagi menjadi lima kecamatan, tapi masyarakat pendukung kebudayaan Mentawai masih terkonsentrasi di Kecamatan Siberut Selatan, yakni di kawasan Sarareiket Hulu, antara lain di Madobag, Rogdok, Ugai, dan Matotonan. Di kawasan ini gajeuma’ (gendang), jejeneng (genta) dan tuddukat (kentongan), masih berfungsi sebagaimana mestinya. Ke sini pula turis-turis mancanegara mengarahkn langkah mereka, bila ingin menyaksikan aktivitas tradisional masyarakat Mentawai, begitupun para antropolog, ethnolog dan peneliti masyarakat dan kebudayaan Mentawai lainnya.

Muara Siberut, ibukota Kecamatan Siberut Selatan, cukup ramai dan memiliki infrastruktur yang cukup lengkap untuk mendukung pariwisata. Jalan raya, listrik, air bersih, penginapan, jembatan, pelabuhan, telepon kabel dan non kabel (wireless), internet, rumah sakit, kepolisian, bank, dan berbagi sarana transportasi seperti ojek, mobil pick up, speedboat, pompong, perahu dan semacamnya cukup tersedia. Begitupun pemandu wisata dan pusat informasi, yang terakhir ini bisa didapatkan di Kantor Camat.

Dari Muara Siberut ke Sarareiket Hulu hanya dibutuhkan setengah hari perjalanan dengan pompong. Dengan speedboat bahkan lebih cepat lagi, apalagi kalau air pasang. Boat bisa melaju kencang tanpa kuatir baling-baling tersangkut di bangkai kayu yang memenuhi dasar sungai atau menabrak gosong pasir berlumpur di bagian tertentu sungai.

Pokoknya tak ada masalah transportasi. Kapan saja selalu ada kapal ke Sarareiket, apalagi carteran, kuncinya uang dan kerendahan hati saja. Dengan dua modal itu jalan ke hulu sudah terbuka lebar untuk Anda.

Apa khasnya pedalaman Siberut Selatan ini selain memiliki banyak atraksi budaya? Selepas Muara Siberut Anda akan melewati Puro, desa bentukan pemerintah dengan nama PKMT (Pemukiman Kembali Masyarakat terasing). Desa ini sudah seperti desa-desa di tanah tepi, tapi di pinggir sungainya banyak ditanami pohon kelapa, dipadu dengan semak belukar gelagah sebelum memasuki kawasan desa, nuansanya persis seperti yang terlihat di film-film tentang Vietnam.

Makin ke hulu perkampungan menghilang. Sesekali kita akan menemukan sapou sainak (kandang babi) yang berdiri satu-satu di wilayah mone (ladang) suatu suku. Jarak masing-masingnya bisa mencapai 3 atau 6 kilometer.

Masyarakat Sarareiket sering menghabiskan waktu mereka sekeluarga di kandang babi ini, kecuali di uma ada lia atau punen, atau hari Minggu, saat mereka sekeluarga beribadah ke gereja.

Menjelang Dusun Rogdog, ada persimpangan. Belokan yang ke kanan adalah jalan menuju Salappa’, Kecamatan Siberut Tengah. Sedangkan yng lurus menunju Rogdog, Madobag, Ugai dan Matotonan.

Di Rogdog ada bagian sungai yang menurun dan sedikit berbatu, sehingga air di situ berbunyi rog dog rog dog, konon bunyi inilah yang dijadikan nama dusun.

Selanjutnya Madobag. Ini kampung asli Wakil Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet. Di tepi desa ini ada air terjun kecil yang cukup diminati turis untuk mandi-mandi. Tapi kawasan sekitar tersebut masih berupa semak belukar yang belum dibersihkan, karena itu keamanannya tak terjamin.

Kampung selanjutnya Ugai dan terakhir Matotonan. Desa Matotonan ini konon dibangun bersama-sama oleh masyarakat Mentawai dan seorang Jawa, tapi Matotonan adalah desa yang layoutnya dibentuk pemerintah, kecuali uma sabulat yang sudah sejak dahulu kala dibangun di puncak bukit. Ariadi, mantan Kepala Desa Matotonan adalah anggota suku ini.

Matotonan merupakan desa terakhir di pedalaman Siberut Selatan. Dari sini Anda bisa ke Sakuddei, uma yang menjadi obyek penelitian Reimar Schefold, ahli antropologi dari Amerika Serikat dan menulis buku “Mainan Roh”, satu-satunya buku yang lengkap dan akurat tentang masyarakat dan kebudayaan Mentawai. Untuk mencapai Sakuddei Anda harus jalan kaki selam 2 hari semalam.


Tips
Perjalanan ke Sarareiket membutuhkan perlengkapan lain yang sifatnya teknis. Misalnya mantel hujan, karena perubahan cuaca sering terjadi tanpa gejala-gejala yang ekstrim. Pns terik bisa berubah seketika menjadi hujan lebat, begitu sebaliknya. Selama setengah hari di kapal Anda pasti bertemu curah hujan.

Kantong plastik adalah perlengkapan yang mutlak harus ada selain mantel hujan. Pakain dalam ransel atau carier, alat-alat tulis, laptop, kamera, tape recorder, dompet, senter, pengikat rambut, obat-obatan dan sebagainya harus diamankan dalam kantong plastik kering, bila Anda ingin semua peralatan tersebut tetap berfungsi dengan baik.

Obat-obatan. Mentawai masih menjadi salah satu tempat favorit nyamuk-nyamuk penyebar penyakit malaria, karena itu selain harus siap dengan obat anti nyamuk oles seperti Autan, Soffel, Lavenda dan lain-lain, Anda juga harus selalu sedia pil kina dan minyak tanah. Yang terakhir ini untuk mencegah gigitan singit-ngit atau agas, yang sekali nempel langsung gatal. Betadine juga diperlukan untuk berjaga-jaga dari luka. Obat-obatan lain yang juga perlu dibawa adalah obat flu, demam, sakit kepala dan obat gosok. Perubahan cuaca mendadak yang sering terjadi bisa membuat tubuh kita tidak tahan dan kondisi lapangan yang licin, berlumpur, becek sehingga kita sering harus berjalan di atas titian kayu yang lebarnya hanya 5 sentimeter, sering membuat kita terpeleset atau keseleo.

Topi, kacamata, sepatu boot dan sunblock atau handbody adalah perlengkapan lain yng tak kalah penting untuk mengurangi bahaya sengatan matahari dan gigitan ular. Di Sarareiket Hulu banyak ditemui ular hijau yang mungkin saja berbahaya. Anda takkan mau coba-coba dengan ular kan?

Namun yang terpenting dari seluruh bawaan adalah ubek (rokok atau tembakau). Masyarakat Mentawai di Sarareiket sangat suka rokok. Tua muda, laki-laki perempuan, nyaris semuanya merokok. Mereka punya rokok asli yang dibuat dari irisan daun keladi yang dikeringkan dan dibungkus daun pisang atau daun kelapa sebagai papirnya. Tapi tentu saja mereka lebih suka rokok betulan, seperti Kaiser, Galan, Gudang Garam, Jie Sam Soe dan lain-lain, termasuk tembakau Payokumbuah merek Panorama.

Anda perlu membawa ubek ini untuk membuka hati masyarakat. Mereka akan menerima Anda di uma-nya bila Anda datang dengan seyum terbuka dan ubek di tangan, akan lebih baik jika Anda tambah dengan kopi dan gula, bahka kalau ingin makan bersama mereka Anda bisa bawa beras dan lauk-pauk juga. Bukan hal aneh di Mentawai kalau tamu yang membawa jamuan, mengingat bertamu bukanlah tradisi mereka dan sajian mungkin tak cocok dengan selera Anda, kecuali Anda suka kapurut (lemang sagu kering), subbet (onde-onde keladi) dan minum air putih saja.

Sarung, selimut, kaus kaki, jacket dan matras juga wajib ada, terutama untuk tidur di malam hari, karena kawasan Sarareiket Hulu cukup dingin dan nyamuknya rajin berpatroli. Jangan mengharapkan kasur empuk di Sarareiket, bahkan di rumah guru dan kepala desa takkan ada, mereka lebih suka kasur tipis atau jaragjag (tikar pandan), kecuali di resort-resort wisata yang banyak di pulau-pulau.

Kegunaan lain sarung adalah untuk mandi sungai. Tak ada sumur yang cukup bersih di Sarareiket, karena airnya berlumpur, tapi selalu ada air bersih di sungai-sungai kecil yang mengalir di tepi desa, cuma untuk mandi di sana Anda tak boleh telanjang, harus bawa sarung sebagai basahan sekaligus untuk berganti pakaian. Anda juga tidak boleh buang hajat di sungai, pergilah ke semak-semak, gali lubang di situ, dan buanglah. Hati-hati ular dan semut rangrang.

Senter merupakan perlengkapan vital yng harus Anda miliki, karena tak ada cukup penerangan di pedalaman. Kalaupun bisa membawa obor, Anda harus punya persediaan minyak tanah yang cukup dan di hulu harganya mahal, bisa mencapai Rp7.000 per liter.
3:04 AM | 4 komentar

Sebuah Pondok di Kotaku

Written By imran rusli on Thursday, December 18, 2008 | 11:29 PM

Meski kini berdomisili dan telah menjadi warga Pekanbaru, Padang masih menjadi kota saya, maklum SD (SD Pertiwi II Belakang Tangsi) saya di sini, SMP sebagian--karena saya sering pindah sekolah yakni SMP 4, SMP 3, SMP 359 Sabang (Aceh), SMP 1 dan SMP 2 Pariaman--juga di sini, SMA sepenuhnya di sini (SMA 1), dan kuliah (Antropologi Unand) pun di sini, meski tak sampai selesai.

Jadi, sah-sah saja kan saya bilang Padang itu kotaku? Apalagi sekarang saya kerja di sini, ngurusin Tabloid Puailiggoubat dan bantu-bantu media online padangmedia.com. Jadi, udah, nggak ada yang peduli kok!

Mahluk apa sih Pondok itu? Yang pasti bukan seperti yang Anda Pikirkan, karena Pondok bukanlah bangunan, tapi sebuah kawasan. Kawasan yang terletak di bagian selatan Kota Padang, tepatnya dalam wilayah Kecamatan Padang Barat, Kelurahan Pondok, meliputi sebagian Jalan HOS Cokroaminoto, sebagian Jalan Sungai Bong, sebagian Jalan Niaga, seluruh Jalan Pondok, seluruh Jalan Tepi Pasang, sebagian Jalan Pulau Karam, sebagian Jalan Kali Kecil, dan sebagian Jalan Tanah Kongsi.

Banyak ikon khusus untuk mengenali kawasan ini, antara lain Pecinan, Apotik Kinol, RM Pagi Sore, Bioskop Satria (Apolo), es durian, kedai kopi Nam Yang, tukang gigi, pasar Tanah Kongsi, pusat penjualan kripik balado, penjahit Bola Dunia, toko sepatu Hero dan Padang Galery. Kalau Anda ke Padang dan tanya-tanya ikon-ikon ini pasti semua tahu.

Kawasan ini juga tergolong dekat dari hotel, misal Hotel Pangeran City, Hotel Ambacang Plaza, Hotel Bumi Minang, Hotel Hayam Wuruk, Hotel Nuansa, Hotel Muara, Wisma Immanuel, Hotel Dipo. Jarak terjauh, hanya sekitar 1 km, atau 15 menit jalan kaki.

Meski kecil, Pondok merupakan bagian tak terlepaskan dari sejarah Kota Padang, karena kawasan Pecinan ini dekat dengan Pasa Gadang (Pasar Besar), pusat perdagangan terbesar di Padang pada zaman Belanda, bahkan bisa dibilang tumbuh bersamaan, karena etnis China--yang dikonsentrasikan di kawasan itu--adalah mitra dagang setia VOC, perusahaan dagangnya Belanda.

Pondok juga tidak jauh dari Pelabuhan Muaro, basis militer, pergudangan dan pelayaran antar pulau, yang merupakan pelabuhan utama Kota Padang sebelum Taluak Bayua (Teluk Bayur atau Emma Haven) dibangun.

Pokoknya Pondok itu sentral, dulu. Sekarang masih sentral sebenarnya, tapi di bidang lain: kuliner.

Bila malam tiba, Pondok akan berubah jadi pusat jajanan serba ada. Pedagang makanan dan minuman bermunculan di emper-emper toko dan pinggiran jalan. Jalan raya pun berubah menjadi areal parkir, sehingga selalu macet dan susah dilewati. Keramaian ini akan berlangsung sampai pukul 24.00 WIB, kecuali di beberapa rumah biliar--seperti Rumah Biliar Damarus- yang buka sampai jam 02.00 WIB pagi.

Meski sejak pagi warga Kota Padang sudah menjadikan kawasan ini sebagai tempat favorit untuk sarapan dan tempat makan siang, tapi keramaian di malam hari jauh melebihi. Kalau pagi orang paling-paling mencari lontong sayur, bubur kacang ijo campur roti tawar, serabi kuah, bubur kampiun, dan bubur ayam, sementara siang orang akan ramai-ramai makan di RM Pagi Sore yang terkenal dengan ayam goreng kurusnya, atau menikmati es durian di Pulau Karam, maka malam hari orang akan mendapatkan lebih banyak keinginan, karena jumlah pedagang bertambah drastis.

Ah, ini kan sama saja dengan Pecenongan atau Pujasera di mana-mana, apa uniknya, di mana asyiknya?

Eh tunggu dulu. Malam hari Pondok akan menggelar lebih banyak jenis makanan. Mulai dari sea food dan chinese food di Restoran Apollo; ikan bakar bumbu pedas biasanya ikan nila dan ikan kerapu; sate ayam khas Padang (lontong dan kuahnya beda); sate KMS cabang Blok A yang juga dikenal dengan nama Sate Berungut karena pemilik atau kasirnya selalu cemberut dan memasang wajah masam seolah-olah kesal pada pembeli; Sate Danguang-danguang, meski tak seenak yang di Payokumbuah atau di Pekanbaru; gado-gado; lotek; bubur ayam; martabak mesir, yang masih kalah jauh dari Martabak Kubang di Jalan M Yamin; aneka jajanan pasar; soto minang dan sop; mi goreng; mi rebus; roti Hoya Bakery; roti bakar; ayam bakar; babi panggang, yang ini restorannya khusus; nasi goreng; nasi ramas; lompong sagu, lamang tapai; pisang panggang, pisang goreng, aneka gorengan lainnya; jagung bakar, jagung rebus, aneka jus; segala macam kopi; aneka teh; jeruk peras; es teler; cendol; es durian; es campur; es tebak; skotang, dan banyak lagi.

Asyiknya, semua dijajakan di tempat terbuka--tapi bukan di tenda-tenda--di lingkungan yang bersih, tak ada bau got atau aroma tak sedap lainnya, karena para pedagang cukup disiplin menjaga kebersihan lingkungan, dan suasananya begitu hidup karena setiap orang sepertinya sudah saling kenal. Jadi Pondok itu seperti rumah besar tempat anggota keluarga besar bertemu dan berkumpul. Tegur sapa, saling bertukar senyum, anggukan ramah bertebaran di sana-sini. Suasana seperti ini takkan Anda temui di Pecenongan atau Pujasera manapun, karena orang tak saling kenal dan biasanya sibuk dengan kelompok masing-masing. Pondok itu beda.

Jadi kalau Anda ke Padang dan bosan dengan menu hotel yang itu ke itu saja, cobalah ke Pondok, tak ada ruginya toh, cuma jalan kaki sebentar dan paling banter habis Rp25.000 (harga makanan Rp5.000 - Rp15.000 per porsi, minuman Rp3.000 - Rp10.000), siapa tahu dapat teman atau relasi bisnis baru, karena Pondok merupakan salah satu tempat kumpul favorit kaum elite dan profesional Kota Padang.

Yang khas di Pondok
1. Toko Sepatu Hero (bisa pesan sepatu dan sandal di sini).
2. Padang Galery (karya pelukis Padang tersedia di sini, dari yang sudah punya nama, sampai yang baru lahir).
3. Penjahit Bola Dunia (penjahit terkenal yang banyak diminati pejabat).
4. Kedai Kopi Nam Yang (kedai kopi kesukaan tokoh politik, anggota dewan, kepala dinas, pengusaha sukses, wartawan, dokter, pengacara, tokoh pemuda, dan sejenisnya).
5. Sate Ayam Mak Codet (sate ayam dengan bumbu kacang dan bumbu kecap, lontongnya beda, pipih, dibungkus dan diikat tali pisang).
6. Es Durian (eh campur dengan lelehan duren di atasnya).
11:29 PM | 2 komentar

Naik Kereta Api Wisata ke Pariaman

Written By imran rusli on Friday, November 28, 2008 | 10:16 AM

Saya sering ke Pariaman (lha kampungnya emang di sana), tapi dengan kereta api wisata baru dua kali. Terakhir baru-baru ini, entah bulan apa, saya lupa dan malas mencari kepastiannya, yang jelas saat itu Saudagar Minang lagi hajatan di Pangeran Beach Hotel dan Padang siap-siap memasuki Pilkada Walikota. Jadi? Baru aja dong!

Karena diberitahu kereta berangkat pukul 06.00 pagi, saya sudah stand by di Stasiun Padang, Simpang Haru, jam 05.30, dan langsung mengumpat, karena ternyata kereta apinya berangkat pukul 09.00 WIB. “Yang jam 06.00 itu kereta biasa Pak, harian, kalau Minggu ya jam 09.00,” kata seorang petugas dari PT KAI (Kereta Api Indonesia), atau malah tukang sapu, mengomentari kebegoan saya.

Sekitar pukul 08.00 calon penumpang mulai ramai. Ternyata banyak juga peminatnya. Ketika saya mau beli tiket gerbong eksekutif yang tarifnya Rp80.000 pp, ternyata sudah dicarter orang sampai 6 minggu ke depan. Sayang cuma terdapat satu gerbong eksekutif. Hebat ya? Saya coba gerbong bisnis yang tarifnya Rp50.000 pp. Juga sudah diborong orang. “Tinggal gerbong ekonomi Pak, Rp10.000 pp,” kata petugas loket.

Ya sudah, mau gimana lagi? Saya beli tiket yang semuanya memang dijual pp (pulang pergi) itu. Bukan berarti tak boleh beli tiket sekali jalan, tapi karena penumpang KA Wisata Si Binuang--namanya kayak nama kerbaunya Cindua Mato, jagoan legendaris dari Kerajaan Minangkabau—biasanya memang memesan tiket dua arah. Tapi cocok, saya memang berasa naik kebo betulan, karena kereta apinya merayap, meski tidak mendengus-dengus.

Whui, hari itu ada 10 gerbong diberangkatkan, satu diantaranya gerbong mesin, mesin apa tak saya cari tahu. Gerbong makan (restorasi) tidak ada, karena perjalanan cuma akan memakan waktu sekitar 2 jam. Lagian, rata-rata penumpang kelihatannya membawa bekal sendiri-sendiri. Yang mencarter gerbong eksekutif malah membawa tape deck dan speaker besar segala. “Kami mau arisan Pak, sekalian karaoke,” kata salah satu dari ibu-ibu penyewa gerbong eksekutif itu. Wah kreatif juga tuh ibu-ibu. Dapat dibayangkan betapa hebohnya gerbong mereka, gerbong Yahudi yang mau digenocide nazi pasti kalah. Waduh oi, 6 juta Yahudi tu orang, bukan angka. Maap, maap.

Pas jam 09.00 WIB, KA Binuang diberangkatkan, dan saya tak kebagian tempat duduk, saking penuhnya. Setiap gerbong yang berkapasitas 72 orang itu penuh orang, terutama anak-anak (ya lah, masak penuh kebencian). Tapi penuhnya bukan seperti penuhnya kereta api di Jawa—yang untuk melangkah saja susah—karena saya masih leluasa berpindah dari satu gerbong ke gerbong lain. Saya akhirnya dapat tempat duduk juga, di tangga. Lumayan bisa kena angin, sekaligus bisa jatuh atau kepentok rangka jembatan.

Sayangnya, kereta wisata ini jorok, terutama karena ketidakpedulian penumpangnya. Sampah dibuang seenaknya ke lantai gerbong, anak-anak kencing di bangku dan di bawah bangku, ibu-ibu meludah di sembarang tempat, kaleng dan botol minuman bekas digeletakkan begitu saja di lantai, di tempat duduk, di mana-mana deh pokoknya. Keadaannya diperparah oleh toilet yang dikunci rapat, entah kenapa. Ketika penumpang bertambah di Stasiun Tabiang dan Lubuak Aluang kereta makin kumuh. Kereta Api Wisata apa ini? Hiiiiiy!

Sampai di Stasiun Pariaman sekitar pukul 11.00 WIB penumpang segera berhamburan ke Pantai Gandoriah, yang waktu itu tak dipungut bayaran sama sekali, karena Dinas Pariwisata lagi marah sama pemuda setempat yang katanya tak menyetorkan uang masuk (retribusi) dengan benar.

Nasi Sek

Pantai Gandoriah tak seluas Taplau (Tapi Lauik, Pantai Padang) tapi pengunjungnya beberapa kali lebih banyak, karena di pantai ini banyak sekali wahana bermain, ada buayan kaliang (bianglala), ada perosotan, ada layangan, ada kolam kecil untuk anak-anak yang ingin berenang, ada menara peninjauan, dan banyak sekali pedagang. Persis Taman Impian Jaya Ancol deh (dalam mimpinya orang Pariaman).

Segala macam dijual di pantai itu, mulai dari rakik udang (peyek udang) yang baunya enak tapi rasanya pas-pasan, karena digoreng pakai minyak goreng sisa gorengan tahun lalu, sala lauak (khas Pariaman) lengkap dengan samba ladonya, lontong sayur dan katupek gulai paku (ketupat gulai pakis), sate Pariaman, nasi ramas, manggis muda yang sudah dibuka kulitnya, es rumput laut, aneka pakaian (dari pakaian montir sampai pakaian monyet), balon (beneran, bukan kondom), aksesoris, dan cemilan biasa (produk Indofood dan Siantar Top, yakni segala jenis chiki-chikian dan minuman kaleng Coca Cola cs).

Namun dari keseluruhannya nasi sek lah yang paling menarik perhatian. Banyak sekali penduduk Pasie Pariaman yang berubah profesi dari nelayan menjadi pengusaha rumah makan, gara-gara nasi sek ini.

Menurut teman saya Drs M Ardan Jamil, pegawai Dinas Pariwisata Kabupaten Padang Pariaman, nasi sek mulai muncul sekitar tahun 1990-an. “Sek itu seribu kenyang,” katanya. Waktu itu harga nasinya memang Rp1.000 dan nasinya dibungkus kecil-kecil, persis seperti nasi kucing yang lagi top di Jakarta dan Pekanbaru. Saya dulu pernah langganan di Otista. Benar-benar pas untuk kucing, nasi sejumput lalu disiramin sama kuah doang ha ha.

Sekarang konotasinya lain lagi, karena tak ada lagi nasi sek Rp1.000, kecuali di dapur ibumu, sekali makan di salah satu kedai nasi sek sekarang minimal Rp15.000 satu orang. Masih murah juga kan? Dan kalau ditemani air kelapa muda, yang langsung diambil dari batangnya, seharga Rp5.000, maka makin lengkaplah kenikmatan nasi sek itu.

Kekhasan nasi sek adalah laukpauknya yang didominasi ikan laut segala jenis segala ukuran. Mulai dari maco dan bada (anggap aja teri karena saya nggak tau apa Bahasa Indonesia atau Latinnya) yang kecil-kecil tipis, sampai ikan tuna ada di menu nasi sek. Ikan hiu dan paus memang tak ada, kecuali kalau ada yang menangkap dan menjualnya ke pedagang nasi sek, mungkin akan dimasak juga.

Rata-rata ikan itu diolah menjadi asam padeh (asam pedas), gulai masin (itu yang ijo kekuning-kuningan, walah jangan mikirin yang lain ah, ini lagi cerita makanan), gulai kuning, bakar, sala (benar sala, jadi sala tak hanya bulat, tapi juga panjang-panjang dan lebar-lebar, karena satu ikan gambolo (nah ikan apalagi nih, masa saya harus Indonesiakan jadi gembala?) itu dijadikan sala, artinya dibaluri tepung sala dan digoreng utuh), toco (tauco), dibakar, digoreng balado (digoreng dan dibaluri cabe goreng), dipalai (pepes) dan sebagainya, pokoknya semua menu yang sangat menggugah selera.

Sudah begitu, tempat makannya juga asyik, yakni di pondok-pondok kecil yang bisa memuat maksimal 6 orang (1 keluarga), lengkap dengan tikar pandannya (persis saung di rumah-rumah makan Sunda di Jawa Barat).

Pantai Gandoriah sendiri cukup asyik. Pantainya ditanami pohon pinus (cemara) dan di antara pinus-pinus itu ada lorong jalan aspal sepanjang kira-kira 2 kilometer. Pantainya landai dan berpasir warna coklat muda. Ada juga yang putih, hitam, kelabu dan kuning, tapi dominan coklat muda. Kalau dulu—tahun 1970-an—kuning campur hitam, karena banyaknya orang buang hajat di sana, sampai-sampai terkenal sebagai WC terpanjang di dunia.

Tapi Bupati Anas Malik kemudian menggampari orang-orang yang suka mencemari keindahan pantai dan bikin polusi udara itu. Mereka dianggap ke truk dan dibawa ke pos hansip. Terpaksa, kalau nggak kayak gitu nggak bisa dibikin kapok, ini Pariaman lho, masyarakat terngeyel di dunia.

Pernah suatu kali Bupati Anas Malik yang suka ngontrol (jangan diedit ya) kota pagi-pagi menemukan seorang pemuda yang enak-enakan duduk di tangga sambil baca majalah, sementara halaman rumahnya kotor, dipenuhi daun melinjo. Segera bupati turun dari mobilnya dan mendekati pemuda itu, diiringi ajudan dan beberapa bawahan.

“Hei kamu, kenapa halaman rumah dibiarkan kotor, sapu kenapa?”
Eh si pemuda ogah-ogahan melirik bupati
“Emangnya kenapa, apa urusan situ?”
Wah bupati naik spanning
“Kebersihan kota ini urusanku anak muda, aku bupati, mana orang tua kamu?”
Eh malah ngelirik lagi, males-malesan, lalu dia teriak ke belakang’
“Maaaaaaaaaaak ada orang reseh.”
“Siapa?” terdengar suara maknya.
“Tau, katanya bupati,”
Ampyuuuuuuuuuuun orang Pariaman tuh.

Baru sebentar di Pantai Gandoriah, yang lebih cocok disebut obyek wisata rakyat murah meriah ini, datang lagi kereta api wisata. Kali ini membawa lima gerbong baru yang harganya Rp14 milyar dan dinamai Dang Tuangku—putra Bundo Kanduang, Ibusuri Minangkabau jaman doeloe--bantuan Dinas Perhubungan RI untuk menghidupkan lagi dunia perkeretaapian Sumbar. Gerbong baru itu lumayan bersih, maklum baru, entah bagaimana kondisinya tahun depan, tapi saya pesimis kalau perilaku penumpang yang jorok tak berubah.

Kalau dibandingkan gerbong itu sekarang dan setahun lagi mungkin kira-kira begini:

Sekarang: cat mulus; tempat duduk masih diplastikin; toilet bersih, airnya lancar; kipas angin berputar semua; jendela bisa dibuka tutup dengan mudah; lantai bisa diduduki, dst

Setahun lagi: cat belang bonteng penuh graffity, bekas torehan (mama love papa, andi love ria dan semacam itu), ada juga bekas ingus dan ludah yang salah sasaran; tempat duduk sudah compang-camping, ada bekas pisau dan gunting di mana-mana, sebagian busanya berhamburan ke luar, ada bekas kencing anak-anak, bekas muntahan nenek, bekas kotoran kucing, dan kecoak mati; toilet dikunci rapat, jangankan air bersih, kencingpun dilarang di situ; kipas angin hilang semua, tinggal tampuknya aja; jendela bisa dibuka pakai martil atau batu kali, lantai tak bisa diduduki karena banyak bekas ludah, kencing dan muntah, warnanya juga udah hitam bulukan, penuh dengan tanda-tanda kesengsaraan.

“Peminat wisata ke Pariaman ini banyak, meski rata-rata dari kelas bawah, mereka cukup menghidupkan ekonomi masyarakat di sini,” kata Ardan. Itu terlihat dari banyaknya pedagang di Pantai Gandoriah, yang untuk setiap lapaknya membayar Rp100.000 – Rp250.000 per hari. Ya iyalah, tukang balon aja idup di sana, padahal modalnya cuma sejumlah balon (benar balon, bukan kondom oom) dan bau mulut.

Sekitar pukul 14.00 terdengar pengumuman dari stasiun. “Kereta api wisata akan kembali ke Padang pukul 14.30, penumpang diharap siap-siap.” Dan tepat pukul 14.30, KA Wisata Si Binuang kembali beringsut ke Padang dengan kecepatan tertinggi 30 kilometer per jam. Pukul 17.00, kereta masuk lagi di Stasiun Padang. Saya bisa pulang dengan tenang dan memastikan diri takkan naik KA Si Binuang atau Dang Tuanku lagi tahun depan atau tahun-tahun berikutnya dan tahun-tahun berikutnya lagi, soalnya kebayang yang tadi. Hiy
10:16 AM | 1 komentar

Indahnya Laguna Tiku

Written By imran rusli on Thursday, November 27, 2008 | 10:02 PM


Laguna Tiku, kecantikan yang teduh dan
menenangkan. Bear-benar sudut yang
classy dari Nagari Tiku. (Foto Imran
Rusli).

Tiku sering digelari orang pantai mutiara. Gelar yang sangat pantas tampaknya, karena nagari di pesisir Kabupaten Agam ini memang sangat indah bak untaian mutiara mutu manikam.

Kebesaran nama Tiku sebenarnya sudah sejak dulu, ketika di pantainya kapal-kapal dagang Inggris, Portugis dan Belanda berebut merapat untuk menampung berbagai rempah dari pedalaman Sumbar seperti pala, kulit manis (casiaverra), cengkeh dan lain-lain yang banyak tumbuh di sepanjang kawasan pesisir dan pedalaman Sumbar. Sampai sekarang bekas-bekasnya masih bisa dilihat di sekitar Lubuak Basuang, Manggopoh dan Danau Maninjau. Pala, kulit manis dan cengkeh banyak tumbuh di kawasan tersebut.

Kita masih bisa melihat bangunan berarsitektur kolonial di pusat Kenagarian Tiku, meskipun kondisinya sudah tak terawat sama sekali, bahkan boleh dikatakan hampir runtuh. Pas di pinggir jalan raya Pariaman – Lubuak Basuang atau Pariaman - Pasaman Barat. Tepatnya di pasar Tiku.

Namun bukan itu yang paling menarik. Bicara tentang Tiku mau tak mau harus bicara tentang pantai dan lagunanya. Tanpa harus repot-repot memasuki gerbang ini itu, dari pinggir jalan saja Anda turun dan permisi masuk ke ladang kelapa penduduk setempat Anda sudah bisa menikmati keindahan asri laguna Tiku, karena memang laguna nan cantik itu terletak di belakang rumah penduduk saja. Alangkah beruntungnya punya lanskap seindah itu di belakang rumah…

Deretan pohon kelapa yang meneduhi telaga bening di tepi pantai tersebut sungguh sangat menyejukkan jiwa yang memandanginya. Apalagi kalau pas sunset, tak terkatakan indahnya. Yunofrin, Sekjen MPKAS (Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatra Barat) pernah mengatakan sunset di Tiku adalah sunset terindah di Sumatra Barat.

Seperti obyek-obyek wisata Sumbar yang belum tersentuh tangan lainnya, laguna Tiku menunggu sentuhan investor yang betul-betul mengerti pariwisata. Jangan sampai kawasan seindah ini jatuh ke tangan para petualang pariwisata yang bisanya hanya melihat keuntungan saja, tanpa memikirkan pentingnya pemeliharaan dan perawatan lingkungan. Sebab hasil akhirnya nanti bisa-bisa hanya akan mengundang wisatawan lokal kelas rendahan, yang suka makan nasi bungkus lalu membiarkan sampahnya berserakan di mana-mana.

Atau yang suka membangun panggung kayu lalu menggelar dangdutan di atasnya, yang bisa mengundang wisatawan tak berkelas ke kawasan itu, atau membangun gazebo-gazebo seadanya tempat duduk-duduk para kurawa atau pasangan-pasangan mesum yang suka pacaran di sembarang tempat.

Karena sesungguhnya laguna Tiku benar-benar tak pantas untuk itu. Dia harus disentuh investor berkelas, yang tahu selera bagus, karena laguna Tiku benar-benar kawasan pilihan yang tidak kalah dengan obyek-obyek wisata berkelas lainnya d Indonesia. Sentuhanlah yang akan membedakannya, yang akan membuatnya tetap asri dan terpelihara selamanya atau sebaliknya: membuatnya layu tak berseri.

Cobalah ke Tiku dan nikmati pesonanya yang beda. Allahuakbar, terpujilah Tuhan yang menciptakan karya maha indah itu.


Cara ke Laguna Tiku
Dari Padang melewati jalan beraspal mulus ke Pariaman (59 km), terus menyusuri pantai ke Sungai Limau dan akhirnya sampai ke Tiku. Jaraknya hanya sekitar 100 kilometer dengan kondisi jalan yang rata tanpa turunan dan tanjakan atau belokan tajam. Terdapat 11 SPBU yang siap melayani Anda di sepanjang jalan.

10:02 PM | 0 komentar

Sawahlunto Bukan Sekedar Batubaro

Written By imran rusli on Sunday, November 23, 2008 | 11:13 PM

Era Sawahlunto sebagai daerah penghasil batubara sudah lama berlalu, kini kota kuali ini (disebut begitu karena berada dalam lembah yang dikeliling perbukitan) giat menggenjot potensi wisata. Hebatnya, kolam lumpur pun bisa dijual oleh Pemkonya. Hebat memang Sawahlunto.

Siapa tak kenal sawahlunto. Bahkan Anda yang di Mentawai pun pasti tahu. Kalau tidak tahu ya kebangetan dan malu-maluin, karena Sawahlunto sangat terkenal sebagai negeri penghasil batu bara sejak zaman Belanda dulu.

Gara-gara Sawahlunto, jalan kereta api dibuat di Sumatera Barat. Pelabuhan dipindah dari Muaro ke Taluak Bayua dan diberi nama Emma Haven. Pabrik semen Indaruang dimungkinkan berfungsi dengan harga ekonomis karena Sawahlunto, sebab pabrik itu tak perlu lagi membeli batubara yang sangat dibutuhkan sebagai bahan baku pembakaran di silo-silo PT Semen Padang dari tempat lain yang jauh. Bayangkan kalau PT Semen Padang membeli batubara dari PT Kaltim Prima Coal, di Samarinda, bisa-bisa harga Semen Padang satu zak Rp200 ribu.

Sekarang, setelah batubara habis--sebenarnya nggak habis, tapi deposit yang tersisa letaknya jauh di bawah tanah jadi biaya produksinya nggak cocok lagi dengan keuntungan yang bakal diperoleh—maka lubang-lubang bekas tambang dan segala perlatan yang pernah digunakan untuk mengeksploitasi dan mengolahbatubara, serta gedung-gedung perkantorannya disulap menjadi obyek wisata. Begitulah pintarnya Walikota Sawahlunto, Amran Nur mengubah tantangan jadi peluang.

Kota Sawahlunto memiliki masa lalu yang mirip-mirip Australia, yaitu dibangun oleh para narapidana. Mereka belum tentu pelaku tindak kriminal semua, tapi karena melawan Belanda, mereka dikerangkeng dan dirantai semua. Jadi mungkin saja mereka itu pahlawan-pahlawan kita yang dicap kriminal oleh Belanda. Mereka bukan hanya dipaksa menambang batubara di lubang-lubang tambang yang gelap, tetapi juga membangun segala sarana dan prasarana. Kita masih bisa melihat bagaimana orang-orang nestapa yang dirantai kakinya ini terbungkuk-bungkuk mendorong lori batubara di rel-rel di museum yang ada di kota ini. Kalau tidak salah namanya Gudang Ransum dan kini dikepalai Ir Rika Cheris.

Mantan kepala Gudang Ransum Dra Sri Setyawati mengatakan koleksi Gudan Ransum dikumpulkan dari mana-mana, kebanyak tentang teknologi batubara dan sarana transportasi untukmengangkutnya ke Pelabuhan Taluak bayua dan pabrik PT Semen Padang. “Foto-fotonya juga banyak,” katanya.

Pilihan untuk mengubah Kota Sawahlunto menjadi Kota Tambang yang Berbudaya ternyata sangat tepat. Selain bekas-bekas tambang dan jejak eksploitasinya, kini kota wisata ini dilengkapi berbagai sarana wisata lainnya sebutlah Water Boom di Muara Kalaban yang telah mengundang ribuan orang dari seantero Sumatera Barat, sampai Riau dan Jambi.

Lalu ada resort wisata Kandi Tanah Hitam , yang berjarak lebih kurang 12 kilometer dari pusat kota. Kawasan ini memiliki luas 393,4 hektar. Resort Kandi dilewati Sungai Batang Ombilin, di sana terdapat 3 danau yakni Danau Kandi, Danau Tanah Hitam dan Danau Tandikek. Ketiga danau ini terbentuk dari lubang galian bekas tambang.

Para pencinta olahraga motocross juga dimanjakan di sini, karena ada sirkuit yang rutin menyelenggarakan pertandingan tingkat nasional sekali setahun dan tingkat lokal sampai lima kali setahun. Arena road race ini luasnya 10 hektar.

Selain ahli ketangkasan bersepeda motor juga ada lomba pacu kuda. Luas lokasinya 39,69 hektar dan memiliki track pacu kuda sepanjang 1.400 meter dengan lebar 20 mete, tribun VVIP berkapasitas 300 penonton, tribun VIP yang bisa menampung 500 orang dan tribun ekonomi yang berkapasitas 30.000 orang. Kandang kudanya jugaada, cukup untuk 200 ekor kuda, termasuk kudakesayangan walikota. Tapi saya lupa namanya.

Saat ini juga tengah disiapkan pembuatan Taman Safari mini dengan total investasi Rp25 miliar di lahan seluas 40 hektar. Kalau taman ini jadi bisa dipastikan kebun binatang di Bukittinggi bakal kehilangan banyak pengunjung.

Pengunjung yang menyukai cendera mata bisa ke Silungkang. Banyak kios cendera mata di sana yang menjual segalanya. Dari sapu ilungkang yang ternama sampai batu lado dari batu kali. Yang terakhir ini disukai sekali oleh pelnacong dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia karena ubik dan sangat bernuansa alami.

Penggila songket akan terpuaskan olehbanyaknya kios-kios yang menjual songket dan aneka tenunan lainnya, termasuk kain sarung. Bahkan bisa melihat penenunnya sedang beraksi. Misalnya Ibu Fatimah, yang suka menenun sendiri songket jualannya di kiosnya INJ Songket, Batu Manonggou, Silungkang. Harga songketnya Rp200 ribu – Rp3,5 juta. Ada motif burung merak yang katanya asli Silungkang dan sudah jarang dibuat. Sandal, dompet, selendang dan ikat pinggang bermotif songket juga banyak dengan harga Rp10.000 – Rp500 ribu.

Kalau lapar bisa ke kedai-kedai sop dan soto Muaro Kalaban yang sudah tenar. Misalnya Soto dan Sup Urang Awak atau Sup dan Soto Baselo Ponsel. Tak sampai Rp25 ribu per orang, sudah bisa makan kenyang.

Untuk kenyamanan pengunjung, Pemko Sawahlunto telah menyiapkan beberapa hotel yang letaknya strategis di tengah kota, yakni Wisma Ombilin dan Laura Hotel, kalau kurang belasan home stay bertarif murah siap menampung.

Namun yang paling menarikdari Sawahlunto adalah kedamaian kotanya. Siang hari warganya tidur siang, sore sehabis mandi mereka memenuhi jalanan dan taman kota, jalan dan bercengkrama sesamanya. Berkonvoi dengan sepeda motor keliling kota, duduk-duduk di pertigaan M Yamin, atau di taman-taman di sekitar tugu perjuangan dan halaman kantor PT BA UPO. Sesekali naik bendi keliling kota. Bedanya denganbendi di Kota padang, tak terlihat ceceran tahi kuda di jalan, karena kusir bendinya menyediakan kantong untuk menampung kotoran kuda, sehingga Kotasawahlunto bebas dari aroma tak sedap yang gampang sekali kita jumpai di Kota Padang.

Malam hari, pendaran cahaya lampu memenuhi kota. “Dulu, ketika penambangan batubara masih jalan kota ini terlihat seperti Los Angeles, terang benderang bermandikan cahaya,” kata Mak Idris (73), mantan pegawai tambang yang sudah kenyang bolak-balik Wasahlunto – Amerika Serikat. Kini cahaya itu berkurang, tapi masih ada sisa-sisanya.

Jadi? Sesekali sempatkanlah diri Anda jalan-jalan ke Sawahlunto, pasti tak kan menyesal!
11:13 PM | 1 komentar

Kerei, Aset Wisata Potensial Mentawai

Kerei atau dukun memiliki posisi yang istimewa dalam kebudayaan Mentawai. Mereka bukan sekedar penyembuh atau tabib yang mengobati orang sakit, juga bukan sekedar penghibur yang menari di setiap punen atau lia (ritual adat), tapi mereka adalah satu-satunya penghubung antara manusia di dunia nyata dengan jiwa mereka sendiri, dengan jiwa segala mahluk hidup lainnya yang berhubungan dengan mereka, dengan jiwa-jiwa benda mati, serta dengan roh-roh yang baik dan jahat di alam fana. Tanpa mereka manusia akan menjadi sosok yang terseok-seok dan terancam selalu terlibat masalah yang bisa berujung malapetaka dalam menjalani rutinitas kehidupan karena ketidakmampuannya berkomunikasi dengan segala mahluk gaib tersebut.


Dalam kebudayaan Mentawai lama, yang erat hubungannya dengan sistem kepercayaan arat sabulungan, kerei menempati tempat yang sangat istimewa, tapi budaya semacam itu makin lama makin menghilang seiiring perubahan mendasar yang terjadi pada sistem kepercayaan masyarakat. Saat ini fungsi dan peranan kerei makin berkurang karena masyarakat sudah menemukan Tuhan baru yang bisa memenuhi kebutuhan spritual mereka melalui agama-agama saamwi seperti Katolik, Protestan, Islam dan lain-lain, akibatnya mereka tak butuh kerei lagi, karena Tuhan yang baru tersebut tak butuh perantara dan bisa segala bahasa.

Akibatnya, kerei menjadi sosok fenomenal yang ditinggalkan. Padahal dulu, apa yang tidak memerlukan campur tangan kerei? Nyaris tidak ada. Hampir seluruh tahapan kehidupan masyarakat mentawai membutuhkan bantuan kerei. Mulai dari membangun rumah, membuat sampan, melahirkan, mengalami kematian, berburu, sakit, menangkap ikan, membuka ladang, melakukan perjalanan, menikah, sampai meramal masa depan.

Ketika itu hampir setiap suku memiliki kerei sendiri, bahkan sering sampai lebih dari satu dan regenerasinya berjalan lancar. Meninggal kerei yang tua, naik kerei yang muda. Setiap desa tak pernah kesulitan kerei. Sekarang, ketika YCM (Yayasan Citra Mandiri) menyelenggarakan Pagelaran Budaya Mentawai 2008 di Tuapeijat, Kecamatan Sipora, yang salah satu acaranya punen uma baru (ritual peresmian rumah adat baru) kerei harus didatangkan dari Dusun Salappa, Kecamatan Siberut Selatan. Kawasan yang dikenal dengan nama Sarareiket tersebut—meliputi Kecamatan Siberut Selatan, Siberut Barat, Siberut Barat Daya, Siberut Tengah, Siberut Utara--memang masih menjadi gudangnya kerei, sementara Sipora, Sikakap, Pagai dan lain-lain tak punya kerei lagi.

Tak heran ketika menyaksikan tga orang kerei beraksi di uma YCM yang terletak di puncak Bukit Mapaddegat, kurang lebih 5 kilometer dari ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai, Tuapeijat, ratusan orang Mentawai asal Sipora tak henti-hentinya melotot mengikuti setiap gerak-gerik ketiga kerei tersebut, mereka bahkan terkesan takut pada kerei yang berwibawa tapi humoris itu. “Bawaannya angker, serem deh,” kata seorang remaja perempuan asal Tuapeijat.

Eksotis
Kerei memang sosok eksotis yang selalu menarik untuk dipandang. Aksesoris yang mereka pakai langsung memikat mata, karena sangat berbeda dari aksesoris biasa. Selain memenuhi bagian-bagian tertentu badannya dengan dedaunan, kerei juga memakai banyak ngalou (kalung), inu (gelang), letcu (gelang pangkal lenggan) dan luat (hiasan kepala) yang terbuat dari manik-manik plastik berwarna-warni. Meski bukan produksi asli Mentawai, manik-manik tersebut sudah mereka jadikan aksesoris sejak ratusan tahun lalu.

Seperti belum cukup ada lagi tudda’ (kalung besar berbahan dasar kristal dan rotan atau bambu padat), yang menurut mereka dulunya didatangkan khusus dari Belanda oleh para serdadu kolonial yang terpesona dengan aktivitas kerei. Lalu ada katsaila dan sou-sou (dedaunan dan hiasan di kepala), abag ngalou (hiasan dada tempat segala jimat dan benda-benda sakral kerei disimpan saat muturuk (menari untuk menghibur roh nopn pengobatan atau mulajo (menari untuk pengobatan), jara-jara (bulu ayam yang dibungkus kain dan digantungkan di antara tengkuk dan punggung bagian atas), sabok (kain penutup pangkal paha) dan kabid (celana tradisional Mentawai yang terbuat dari kulit kayu).

Semua aksesoris dan atribut itu sudah tak dikenal orang di Sipora, Sikakap atau Pagai. Kalaupun kenal sifatnya samar-samar dan sangat tergantung dari orang tua atau nenek masing-masing. “Kalau nenek cerita pasti saya tahu, tapi nenek tak cerita jadi saya tidak tahu banyak soal kerei ini,” ujar seorang ibu asal Dusun Mapaddegat, yang sengaja datang ke uma YCM untuk menyaksikan aksi kerei dari dekat.

Fungsi kerei yang banyak dikenal masyarakat Mentawai di luar Siberut adalah sebagai tabib dan dukun peramal. Bagi mereka kalau ingin tahu apakah suatu pekerjaan atau perjalanan layak diteruskan maka panggilah kerei, agar dia meramalkan masa depan kita melalui usus ayam dan jantung babi. Bila sakit panggilah kerei agar dia bisa memilihkan daun-daun obat yang tepat untuk menyembuhkan orang sakit tersebut.

Padahal seperti telah diungkap di atas fungsi kerei tak sesederhana itu. Dia bukan ahli mengobati atau peramal ulung, tapi hanya orang yang dikarunia pengetahuan atau ketrampilan lebih untuk berkomunikasi dengan seluruh jiwa dan roh yang memenuhi alam semesta.

Bahkan untuk mengobati orang-orang sakit, daun-daun itu sendirilah yang menawarkan diri mereka ke kerei, bahwa merekalah dedaunan yang tepat untuk mengobati si sakit. Tarian kerei, makanan yang dipilihkan kerei juga ditujukan untuk membujuk dan menghibur para mahluk halus yang mendiami tubuh setiap benda (hidup atau mati) atau yang berkeliaran di dunia maya agar betah di sana atau tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang akan merugikan manusia. Semuanya hasil komunikasi kerei dengan para mahluk halus tersebut, bukan pandai-pandai dia saja. Untuk jadi kerei pun dia dipilih taika manua (penguasa tertinggi yang berkedudukan di langit, atau semacam Tuhan), bukan mau-maunya sendiri.

“Kalau ada kerei yang mengangangkat dirinya sendiri tanpa sepengetahuan kerei lain, dia apsti kerei gadungan, kata Urlik Tatubeket, Ketua AMA-PM Kabupaten Mentawai Jumat (14/11) malam pada Puailiggoubat dan Kompas di uma YCM.

Potensial
Menyaksikan minat orang Mentawai sendiri untuk tahu lebih banyak tentang kerei yang notabene adalah produk kebudayaan mereka sendiri, tak salah kalau dikatakan kerei memiliki potensi wisata budaya yang besar. Mungkin memang inilah peran yang tersisa bagi kerei setelah proses trasformasi dan perubahan zaman yang terjadi belakangan ini. Soalnya, kalau orang Mentawai sendiri tertarik, masa orang di luar etnis Mentawai tidak?

Pilihan peran ini tentunya bukan untuk mereduksi atau menggerogoti kesakralan kerei, melainkan sekedar alternatif metamorfosis agar kerei tak benar-benar hilang dari bumi Mentawai. Kerei asli silakan istirahat dan menyimpan segala atribut kesakralannya, kerei baru yang khusus diproduksi untuk kebutuhan pengetahuan, pelajaran, dan wisata mohon diperbanyak agar budaya Mentawai tidak lenyap pula bersama menghilangnya para kerei.

Kalau Anda tertarik, silakan ke Siberut Selatan dan menyewa pompong atau speedboat menuju Sarareiket, karena hanya di kawasan itulah kini gajeuma (gendang) dan jejeneng (genta) masih berbunyi mengiringi tarian kerei.

--------------------------------------------------
Biaya Transportasi dan Akomodasi di Siberut Selatan

KMP Ambu-ambu (kelas ekonomi): Rp65.000 + pungli pelabuhan Bungus Rp5.000. Tertera di tiket pas pelabuhan hanya Rp1.500 per orang, tapi diminta Rp5.000.

KM Sumber Rezeki Baru: Rp105 ribu (dek), Rp125 ribu (kamar), tapi jangan kecewa, kondisinya tak jauh beda dengan dek, hanya beda ‘peti mayat’ berbusa saja sebagai kotak-kota bertingkat dua untuk tempat tidur, ditambah jendela-jendela bulat di dindingnya (lumayan untuk memasukkan angin segar atau kalau mau muntah). Berangkat dari Pelabuhan Muara. Kapal ini jarang kosong, tapi selalu dibilang kosong, baru dikatakan penuh—mungkin—bila sudah banyak orang bergelantungan di dinding luar kapal. Anda harus mahir melangkah di antara kepala orang.

Ada lagi beberapa kapal seperti KM Subulat, KM Beriloga dan KM Simasin, tapi ukurannya lebih kecil dari KM Sumber Rezeki Baru, jadi takkan berangkat kalau angin agak kuat, karena bisa tenggelam dihantam gelombang yang membesar kala badai.

Dari Muara Siberut ke Rogdog, Ugai, Madobag, Matotonan, Salappa, Simatalu, Simalegi, Sakuddei dan lain-lain ada pompong dan speedboat yang seringkali harus disambung dengan jalan kaki. Biayanya untuk pompong Rp500 ribu – Rp1 juta (carter), speedboat Rp1 juta – Rp1,5 juta (carter). Kalau beruntung bisa numpang di pompong atau speedboat masyarakat yang kebetulan mau pulang ke Sarareiket. Tarifnya Rp50 ribu – Rp300 ribu per orang. Mau coba numpang sampan warga? Cukup bayar sebungkus rokok, atau Rp10 ribu, dengan catatan harus mau ikut mendayung dan bersedia bermalam di kandang babi orang. Biasanya butuh waktu 3 hari dua malam. Kalau mau jalan kaki bisa gratis, tapi seminggu baru sampai ke tujuan—itupun kalau sampai--dan banyak tidur di kandang babi. Hati-hati ular hijau.

Di Muara Siberut pilihan menginap tak banyak, yang terkenal hanya Penginapan Ibu Tio dekat lapangan bola Muara Siberut. Tarifnya Rp50 ribu – Rp100 ribu semalam.

Bagaimana? Tertarik nonton kerei?
11:11 PM | 0 komentar

Maninjau Masih Cantik Kok

Danau Maninjau katanya sudah tak cantik lagi, karena banyaknya keramba jala apung di badan danau. Saya kurang setuju, menurut saya Maninjau masih cantik. Ribuan keramba jala apung itu memang mengganggu dan mempengaruhi kualitas air danau, tapi hal itu tak mengurangi kecantikan Maninjau.

Danau Maninjau tergolong danau purba. Ahli-ahli geologi mengatakan danau atau kaldera--danau kawah yang terbentuk dari letusan gunung berapi--tersebut terbentuk dari letusan besar yang terjadi berulang kali jutaan tahun silam. Tak heran kalau ukurannya besar sekali, meski yang diisi air tak sampai sepersepuluhnya, yakni sepanjang 16,5 kilometer dan selebar 7 kilometer. Kedalamannya tergolong ‘menyeramkan’ untuk sebuah danau yakni mencapai 500 meter di bagian terdalam. Kelebihan lainnya, dinding-dinding tebing di sekelilingnya sangat terjal—sampai 90 derajat—dengan vegetasi yang masih sangat rapat.

Dari Kota Padang, Danau Maninjau bisa dicapai lewat dua jalan. Pertama lewat Lubuak Aluang, Pariaman, Tiku, Lubuak Basuang, Muko-muko, Maninjau. Jaraknya 140 kilometer. Kondisi jalan bagus beraspal hotmix. Tak banyak tanjakan dan tikungan tajam. Jalur kedua lewat Lubuak Aluang, Sicincin, Kayu Tanam, Padangpanjang, Padang Lua, Matua, Ambun Pagi, Kelok 44, Maninjau. Jaraknya 109 kilometer, dengan banyak tanjakan dan tikungan tajam. Namun keduanya menyajikan view (pemandangan) yang luar biasa. Misalnya, laguna—genangan air tawar di tepi pantai atau di antara batu karang--cantik di Pantai Mutiara, Tiku, Kabupaten Agam atau lembah dan air terjun spektakuler di Lembah Anai, Kabupaten Tanah Data.

Banyak pilihan transportasi ke sana. Misalnya dengan menyewa mobil, mulai dari Rp350.000 per hari, termasuk supir tapi di luar BBM. Atau naik kendaraan umum dari Padang ke Lubuak Basuang yang berangkat mulai pagi dari depan Minang Plaza, Aie Tawa, seperti Harmoni, Harmonis, atau Dagang Pesisir dengan tarif per orang Rp25.000. Dari Lubuak Basuang, naik angkot lagi ke Maninjau, Rp14.000 per orang.

Tak usah kuatir dengan tempat bermalam, terdapat 21 unit hotel dan homestay di sekitar danau. Dari yang bertarif Rp800 ribu semalam, sampai Rp50 ribu. Yang terkenal di antaranya adalah Hotel Maninjau Indah (dekat pasar Maninjau) tarif Rp150 ribu – Rp800 ribu, Hotel Tan Dirih (Aie Angek) Rp150.000 per malam, Hotel Pasir Panjang (Gasang) Rp150 ribu – Rp600 ribu, Hotel Nuansa Maninjau (Ambun Pagi) Rp350 ribu – Rp1.200 ribu. Sedangkan homestay, apapun namanya, rata-rata Rp50 ribu semalam.

Ragam Pesona
Anda bisa mengitari danau seluas 115,5 meter persegi tersebut dari Maninjau sampai ke Maninjau lagi sepanjang 47 kilometer. Bisa pakai mobil, sepeda motor atau sepeda. Untuk yang dua terakhir banyak yang menyewakan, cukup dengan Rp50 ribu dan Rp10 ribu Anda sudah boleh menggunakan kendaraan tersebut untuk 12 jam ke depan. Turis asing lebih suka naik sepeda atau sepeda motor matic.

Seluruh bagian Maninjau bisa dikatakan menarik, tapi semua tergantung selera. Bagi yang suka hiking dan tracking mungkin jalan terjal berbatu dan ditutupi semak belukar di Sakura Hill lebih menarik, apalagi ada air terjun 6 tingkat pula. Wow. Kalau ingin ke sini Anda harus ke Pasar Ahad dulu, lalu naik ke Desa Data Monti, terus Sakura Hill, Data Kociak, Data Buayan, dan keluar di Puncak Lawang. Kawasan ini ibarat Kelok 44 belum jadi, alias belum diaspal dan dirapikan. Dari Sakura Hill Anda bisa menikmati view sisi barat Danau Maninjau. Dulu ada gazebo untuk para wisatawan yang ingin menikmati matahari terbit atau terbenam, serta harimau atau beruang sesekali.

Bagi yang menyukai jalan-jalan biasa, mandi air panas; mendaki dan menuruni Kelok 44 sambil memberi makan puluhan monyet; memantau Maninjau atau membeli berbagai cendera mata serta buah labu dari dan di Ambun Pagi; bersepeda keliling danau; makan kacang goreng di Matua, duduk-duduk di Puncak Lawang, mencicipi palai (pepes), rakik (peyek) dan pergedel rinuak (teri khas Maninjau), serta goreng bada dan rebus pensi (kerang) di tepi danau; memancing dan berenang di danau; bersampan atau naik kapal; makan ikan bakar di restoran sepanjang sungai di Batang Antokan; mencicipi durian; atau berkunjung ke rumah Buya Hamka, Nur St Iskandar, Hj, Rangkayo Rasuna Said, M Natsir atau sekitar 200 unit rumah tua peninggalan colonial Belanda dan lain-lain semacam itu mungkin menarik.

Bagi yang tertarik dengan kemewahan bisa minum kopi di lounge Hotel Nuansa Maninjau. Dengan uang Rp100 ribu per orang Anda sudah bisa menikmati sesaat gaya orang-orang kaya minum kopi sambil makan cemilan.

Sementara yang gila nonton atraksi budaya, banyak juga pilihan. Ada kesenian tambua tassa (tambur tassa) dan pupuik batang padi (terompet batang padi). Pencak silat serta indang pun tersedia. Juga acara perkawinan, qatam qur’an, khitanan atau pengangkatan penghulu. Kalau kebetulan ketemu acara-acara budaya ini, Anda bisa kenyang dijamu makan gratis oleh penduduk setempat yang ramahnya tak ketulungan. Umumnya momen-momen budaya ini bisa Anda temui di Nagari Paninjauan, sekitar 7 kilometer dari Nagari Maninjau.

Bagi penikmat air tebu atau makan kolak, tak ada salahnya melihat-lihat pembuatan saka tabu (gula tebu) di Lawang dan sekitarnya. Di sini, rata-rata penduduk memiliki kebun tebu sendiri, minimal sehektar. Mereka juga membuat gula tebu sendiri. Pertama dengan cara tradisional, yakni menggunakan tenaga kerbau untuk memeras tebu. Kedua cara modern, yaitu dengan menggunakan mesin-mesin penggiling. Apapun kesan Anda, perlu diketahui bahwa seluruh air tebu yang dijual orang di Padang, Bukittinggi, Pekanbaru, bahkan juga Jambi didatangkan dari Lawang. Katanya manisnya lain, persis gadis-gadis Maninjau.

Penggemar wisata religi dijamin akan senang dengan koleksi mesjid dan surau Maninjau. Dari yang tua-dibangun tahun 1889—sampai yang terbaru—dibangun tahun 2001—terdapat di sini. Dari tepi jalan, sampai ke perbukitan, penuh dengan mesjid, sehingga bisa dikatakan Maninjau itu adalah negeri seribu mesjid.

Untuk makan minum tak perlu kuatir. Ada yang sedikit mewah seperti Hotel Nuansa Maninjau atau Water Front Restaurant. Butuh dana sekitar Rp25 ribu – Rp100 ribu dan Anda bisa makan sambil menikmati view Danau Maninjau dari atas awan atau dari permukaan. Kalau beruntung, Anda bisa ‘ketemu’ dengan jari-jari matahari yang sedang menembus ketebalan awan, atau kelompok ikan dalam formasi renang tertentu dan manuver tertentu, meliuk-liuk dengan cepat tapi teratur di air. Tak semua rumah makan di Maninjau mahal, banyak juga yang murah, misalnya RM Dinda, Bunda atau Samba Lado. Cukup Rp10 ribu – Rp20 ribu Anda sudah bisa makan goreng bada atau nila, asam pedas atau gulai kuning nila, dan cincang kambing.

Tapi, bagi saya, yang enak itu makan bersama Rajo Bintang—rajanya pariwisata Sumbar—di hotelnya: Maninjau Indah. Hanya dengan bada goreng balado, tempe goreng dan gulai sayur lobak Cina atau nangka muda, mertua pun tak terlihat lagi saking lezatnya . Di hotel ini, kalau lebih dari sembilan (9) kamarnya terisi akan diadakan main kim, itu permainan angka yang diiringi dengan musik-musik riang.

Maninjau juga punya lokasi paragliding (terbang layang) yang juga terbaik di dunia yakni di Puncak Lawang. Ketinggiannya hanya 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl), tapi para penerbang bisa melambung sampai setinggi 1.700 mdpl, dari pagi sampai sore. Sepuasnya!

Memang ada sedikit masalah dengan keramba. Terdapat sekitar 16 ribu unit keramba dengan jutaan ekor ikan nila. Untuk pakannya saja dihabiskan Rp10 milyar sehari! Setiap sore puluhan truk membawa ratusan ton ikan dari Danau Maninjau ke Padang, Bukittinggi, Riau, Jambi, Kepulauan Riau dan Sumut. Ikan bakar yang Anda makan di restoran-restoran dan rumah makan di kota-kota dan provinsi itu, dengan harga yang rata-rata selangit, umumnya didatangkan dari Maninjau.

Keramba membuat wajah Maninjau sedikit kacau dan kualitas airnya merosot, karena pakan yang tak habis dimakan mengendap di dasar danau, lalu menjadi racun yang mematikan—bagi ikan-ikan terutama—namun bagaimana lagi, tetap saja banyak yang mandi-mandi atau main perahu di danau tersebut. Apalagi ada kapal yang bisa disewa Rp300 ribu per jam dan berkapasitas 30 orang menunggu di danau.

Jadi, terus terang Maninjau masih cantik dan akan tetap cantik bila pemerintah dan masyarakat membicarakan solusinya.
8:54 PM | 0 komentar

Ada Cinta di Padang Lama

Ada sepenggal kenangan di Padang Lama, ketika cinta marak membara atau ketika tubuh terguncang-guncang di bak mobil penjemput anak-anak TK…

Adakah yang tahu bahwa Muaro adalah pelabuhan paling sibuk di kawasan pantai barat di awal abad ke-18? Waktu itu, bersama Bengkulu, Pariaman, Tiku, Aie Bangih, Muaro bukan hanya merupakan pelabuhan dagang yang ramai, tetapi juga pangkalan militer yang berwibawa. Gudang-gudang perusahaan besar, waktu itu disebut the big five, karena jumlahnya lima, dibangun berderet di sepanjang sisi utara Batang Arau, bersebelahan dengan tangsi-tangsi militer Belanda. Para cukong dan petinggi militer senang minum bersama atau bertukar cendera mata di sini.
Dari sinilah Belanda mengawasi keamanan daerah jajahannya seperti Bukittinggi, Bonjol, Sawahlunto, Mentawai, dan Padang sendiri serta menyetok logistik dan memobilisasi pasukan bila ada indikasi perlawanan rakyat. Ketika rakyat Pauah menyerang Kota Padang 7 Agustus 339 tahun silam, yang mereka serang adalah tangsi-tangsi Belanda di Muaro.
Bank-bank besar juga mengambil tempat di sekitar kawasan ini karena uang yang beredar banyak sekali, maklum Muaro bukan hanya sekedar muara bagi air Batang Arau, melainkan juga muara dari berbagai rempah dan hasil bumi lainnya yang mengalir dari pedalaman Sumatera Barat, seperti pala, cengkeh, casiavera (kulit manis), kopra, batubara, emas dan lain-lain.
Tak jauh dari Muaro ada Pasa Gadang, Pasa Batipuah, Pasa Borong, Pasa Mudiak dan Pasa Tanah Kongsi. Semua pasar itu merupakan sentra bisnis utama Kota Padang doeloe, sebelum Pasar Jawa dibuka. Sampai sekarang bekas-bekasnya, berupa ruko-ruko dan pergudangan berarsitektur khas Cina Belanda, masih bisa dilihat, meski sudah banyak yang ditinggalkan atau berubah fungsi menjadi sarang walet.

Ada Cinta
Di banyak negara maju, bagian kota lama biasanya dipelihara dengan baik dan dijajakan sebagai obyek wisata sejarah. Pangsa pasarnya bukan hanya orang-orang tua yang punya kenangan manis atau ikatan emosional dengan kawasan tersebut, tetapi juga para anak muda yang menyukai sejarah atau romantisme masa lalu. Anak-anak muda yang tidak mau tercerabut dari akar. Mereka menggali masa lalu kota dan juga dirinya dari bangunan-bangunan tua yang masih berdiri dan membaca sejarah mereka sendiri dari situ.
Padang lama, bagaimanapun menarik sebagai tujuan wisata. Ada pesona lain di sana, yang tak dimiliki kawasan Kota Padang lainnya. Terutama bagi keturunan Belanda dan orang-orang Tionghoa yang pernah bertugas, berdagang atau berdomisili di kawasan tersebut. Ada kenangan yang tak bisa dibeli dengan uang sebanyak apapun. Ada memori yang terpatri jauh di lubuk hati yang bisa memunculkan kembali rasa gembira, kesedihan terpendam, atau keharuan mendalamhanya dengan melihatnya saja. Ragam rasa yang bisa muncul silih berganti bila setiap jengkalnya ditelusuri kembali.
Misalnya di Pasar Borong, ada sepotong cinta di sana, ketika pulang kursus di Elia, kekasih hati dicolek preman kampung, tak pelak lagi tinju hampir melayang, untung si preman segera minta maaf, kalau tidak mungkin kenangannya akan beda. Kenangan lain justru berbentuk bunyi gradak gruduk bagian belakang mobil penjeput anak-anak TK Cendrawasih II ketika melewati jalan di antara gedung-gedung tua itu 42 tahun yang lalu. Bunyi itu terus bersipongang di telinga, sampai sekarang.
Dari arsitekturnya yang khas orang juga bisa mempelajari asal usul kota dan trend gaya waktu itu. Wajahnya makin terkuak setelah gedung-gedung tua tersebut direnovasi dan dibangun lagi sesuai aslinya, seperti yang kita lihat di gedung HBT (Himpunan Bersatu Teguh) di Jalan Kelenteng, Hotel dan Plaza Ambacang di Jalan Bundo Kanduang, Hotel Batang Arau di Jalan Batang Arau. Bangunan-bangunan tersebut sungguh cantik dan kokoh serta bernilai ekonomi tinggi. Beda sekali dengan bangunan-bangunan sekarang, yang digoyang gempa sedikit saja sudah ambruk.
Sayang suasananya belum bisa dihidupkan kembali, karena aktivitas perdagangan—terutama sebagai area pergudangan—masih terus berjalan. Di Pasa Gadang misalnya, puluhan truk-truk besar bongkar muat setiap hari. Kesan kumuh—dengan begitu—tak bisa dihindari. Padahal pemerintah pusat pernah menunjukkan perhatian yang besar terhadap kawasan ini. Bantuan rehabilitasi sebesar Rp1 milyar pernah diberikan, tapi hanya cukup untuk mem-pavingblock beberapa pelataran bangunan tua dan mengecatnya jadi warna-warni, yang di tahun berkiutnya sudah kusam lagi. Tapi bagaimana lagi, hidup harus terus berjalan, banyak rakyat tergantung pada aktivitas ekonomi di kawasan tersebut, misalnya kuli angkat dan buruh panggul, serta pedagang makanan di warung-warung sederhana.
8:52 PM | 0 komentar

Tuapeijat Nan Memikat

Setelah turbulensi (guncangan) seram di pesawat SMAC (Sabang Merauke Air Charter) berpenumpang 21 orang, dengan lama penerbangan dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) sekitar 40 menit itu mereda, kami mendarat mulus di Bandara Rokot, Kecamatan Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Tapi Tuapeijat masih jauh, satu jam lagi naik boat. Karena boat SMAC yang tarifnya Rp40 ribu—langsung dibayar saat membeli tiket--tak bisa langsung berangkat, entah menunggu apa, kami menumpang boat 140 pk-nya Surfaid, setelah berjalan sekitar 100 meter ke dermaga yang penuh dengan bangkai kayu gelondongan, sisa-sisa penjarahan hutan beberapa tahun silam.
Waduh, hujan turun dan gelombang besar, sementara boat-nya tak boleh lambat, karena mesinnya bisa panas, maka perjalanan laut itupun tak jauh beda dengan pesawat. Bedanya, guncangan di boat lebih menyakitkan, karena langsung terasa ke dada dan pantat, serta dan bercampur air laut dan air hujan.
Jadi, mendaratlah kami—saya dan Direktur YCM, sekaligus Pemimpin Umum Tabloid dwimingguan Puailiggoubat, Sandang Paruhum--di Pelabuhan Tuapeijat, seperti dua ekor tikus habis kecebur got. Basah kuyup! Tapi, bagaimanapun kami harus berterima kasih pada Surfaid yang telah memberi tumpangan gratis.
Ini kedatangan saya yang kedua ke Tuapeijat, namun tetap saja kesannya hebat. Terutama setelah kami disambut oleh jalan yang compang-camping. Sebelah habis digerus air, sebelah lagi dibeton setengah hati. Belum lagi angkot goyangnya, yang benar-benar bergoyang, kata orang.
Tuapeijat, katanya berarti tempat persinggahan sebelum pergi ke tujuan yang sebenarnya dan nama itu tampaknya sesuai dengan fungsi Tuapeijat saat ini. Meski saya agak bingung, karena semua orang tampaknya lebih suka menuliskan Tuapejat atau Tua Pejat, saya akan tetap menggunakan nama Tuapeijat karena nama itu ada artinya. Saya tidak tahu apa artinya Tuapejat dan Tua Pejat. Bahkan ada yang iseng mempelesetkannya jadi Tua Bejat. Kurang ajar memang, tapi salah sendiri kan? Karena konotasinya memang dekat, alias agak mirip-mirip.
Sebagai ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai, Tuapeijat bukanlah kota besar. Dengan luas 11 ribu hektar dan penduduk sebanyak 1.033 KK (3 ribuan jiwa) atau seperlima jumlah penduduk Sipora yang 14.063 orang, Tuapeijat tak lebih ramai dibanding Muara Siberut, Muara Sikabaluan, dan Sikakap, tapi karena statusnya sebagai pusat pemerintahan di Mentawai maka infrastrukturnya lebih lengkap.
Jalan raya yang pernah diaspal dan kini kondisinya remuk redam sepanjang 10 kilometer, jembatan permanen, pelabuhan, kantor-kantor pemerintahan, sarana telekomunikasi, pembangkit listrik, pasar, rumah sakit, puskesmas, kantor polisi, koramil, toko swalayan, juga sekolah, penginapan dan seterusnya lebih lengkap di sini.
Hal lain yang menyolok adalah jumlah turis yang berkunjung. Meski tak ada data tertulis, tapi setiap kali kapal datang dari dan berangkat ke Padang seperti KM Ambu-ambu, KM Sumber Rezeki Baru, KM Beriloga, KM Subbulat dan lain-lain, pasti ada saja kelompok turis yang lengkap dengan papan selancarnya terlihat menumpang. Hati mereka sudah tertambat ke Tuapeijat, karena daerah ini memiliki banyak pantai berombak besar yang menyenangkan untuk surfing (berselancar).
Menurut Andi, sumber saya di Anaileu’ita Resort yang berlokasi di Makakang, Sipora, turis suka karena barrel (lorong ombak seperti terowongan) ombak Tuapeijat itu panjang, sehingga kalangan surfer dunia memberikan peringkat nomor delapan untuk barrel Tuapeijat tersebut, jauh mengalahkan ombak-ombak di Bali seperti Uluwatu dan lain-lain. Puncak ombaknya juga tinggi, bisa lebih tinggi dari rumah bertingkat dua. Surfer bisa horny (‘sangat terangsang’) melihat puncak ombak seperti itu.

Kota Pariwisata
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai sudah memproklamirkan Tuapeijat sebagai kota pariwisata, dan keputusan itu tampaknya tepat, karena potensi wisata Tuapeijat memang lebih dari cukup. Meski hanya memiliki pantai, tapi pantai Tuapeijat bukan sembarang pantai, tapi pantai yang benar-benar menawan, bahkan pantai di belakang pasarnya saja sudah memikat, meski warga tampaknya tak peduli dan tetap membuang sampah sesukanya di situ.
Tak diketahui berapa panjangnya pantai Tuapeijat, tapi dari 147 kilometer panjang garis pantai Sipora, Tuapeijat mungkin punya 40 kilometer garis pantai dan hampir semuanya indah. Belum termasuk yang di pulau-pulau. Pasirnya bervariasi, ada yang halus dan sedikit kasar, dengan warna yang juga beragam: kuning gading, coklat susu, dan putih. Kadang-kadang ditemukan tumpukan potongan bunga karang terdampar di pantai, serta hewan-hewan khas laut yang mencari udara ke bibir pantai.
Saya sempat menikmati pantai di Mapaddegat. Mapaddegat adalah satu dari tujuh dusun di Tuapeijat. Enam dusun lainnya Tuapeijat, Kem, Kampung, Jati, Bakkat, dan Bularian. Karena jalan ke sana lumayan parah, dalam arti aspalnya sudah hancur dan banyak lubang menganga, Mapaddegat yang cuma berjarak 6 kilometer dari pelabuhan Tuapeijat harus ditempuh dalam 30 menit dengan sepeda motor. Itupun dengan bonus pantat dan punggung sakit karena terhentak-hentak masuk lubang. Mungkin dengan angkot goyang lebih lumayan, atau dengan Mitsubishi Kuda dan Kijang Innovanya para pejabat, pastilah lebih nikmat.
Di kilo empat--begitu penduduk setempat menyebut lokasi suatu tempat—tepat di depan kantor Bawasda, kita berbelok ke kanan, menuruni jalan beton sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer sampai ke Mapadeggat. Dari situ, terus ke pantai melewati jalan tanah yang dibangun tahun 2006. Jalan seharga Rp300 juta itu kini sudah tak terlihat, tertutup rumput tebal sampai ke parit di kiri kanan jalan, sehingga yang tersisa hanya jalan setapak untuk dilewati satu orang. Tak sampai 100 meter, ada jembatan sepanjang kurang lebih 60 meter. Jembatan itu juga dibangun tahun 2006, dengan biaya Rp600 juta, tapi kini tak bisa lagi dilalui karena sudah runtuh di sana sini. Bahan baku dasarnya yang ternyata batang kelapa, berpatahan di beberapa bagian.
Setelah menjelajahi jalan setapak dan rumput tebal sepanjang 300 meter-an, kita sampai di homestay, bangunan khusus yang sengaja dibangun Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk melayani kebutuhan akomodasi para turis. Tapi sayang, bangunan yang menelan biaya hampir Rp6 miliar rupiah itu tak bisa dipakai lagi.
Kelima bangunan utamanya tak satupun yang utuh. Pintu, jendela, atap, lantai, loteng, semua hancur berantakan. Salah satu gedung, malah mengalami patah fondasi, sehingga menjadi miring, tak sanggup lagi menyangga berat bangunan di atasnya.
Jangan ditanya meubelernya, yang dulu konon lengkap di setiap kamar. Ada lampu kandelar, spring bed, lemari, meja rias, bathtub, shower, sofa, kitchen set, kipas angin, lampu-lampu, bahkan home theater, semuanya lenyap tak berbekas. Bak di kamar mandi dan wastafel di lorong, juga dipatahkan orang dengan sengaja. Bekas-bekasnya terlihat sangat menyedihkan.
Yang lebih terpuruk keadaannya adalah lapangan tenis. Pagar kawatnya roboh dan lapangannya tak bisa dipakai lagi, karena telah ditumbuhi rumput tebal serta belukar lebat. Hanya sapi dan kambing terlihat di situ. Mungkin namanya Martina Sapimeringis atau Monica Kambing Males. Entahlah.
Namun, semua pemandangan yang menyesakkan dada tersebut, terhapus oleh keindahan pantai Mapaddegat, yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya pernah ke beberapa pantai seperti Kuta, Lovina (Bali), Sengingi (Lombok), Losari (Makassar), Taplau, Aie Manih, Pasie Jambak, Bunguih, Muaro Panjalinan (Padang), Bangka Belitung (Babel), Batam (Kepulauan Riau), Kuching (Sarawak), Pattaya (Thailand), Pantai Mutiara (Tiku, Agam), Puti Gandoriah (Pariaman), Panjang (Bengkulu), Pasir Putih (Lampung), Kasih, Tapak Gajah (Sabang, Aceh) juga Katurai, Taileleu (Siberut Selatan) dan sebagainya, tapi Pantai Mapaddegat sungguh tak kalah. Airnya jernih, memantulkan kebeningan yang hijau. Permukaan air di saat tenang terlihat seperti kaca.

Ke mana pun mata memandang hanya pasir, air dan jejeran kelapa yang terlihat. Sayang tak ada perahu warna warni atau layar terkembang di teluk itu. Lagunanya nan cantik juga dicemari sampah, dan tak ada bule berjemur, mungkin mereka sedang istirahat di kapal atau di salah satu pulau yang ada di lepas pantai. Tapi semua itu tak bisa menafikan fakta bahwa pantai Mapaddegat itu cantik dan dia membuat wajah bopeng Tuapeijat jadi ikut cantik. Konon sunset-nya juga indah.
Dengan pesonanya yang begitu memikat, sudah saatnya Anda berpikir menikmati akhir pecan atau liburan panjang di Tuapeijat. Bila Anda ingin ke sini ada kapal setiap Selasa (Ambu-ambu), Rabu (Sumber Rezeki Baru), Kamis (Beriloga) dan Jumat (Sumber Rezeki Baru) dengan tarif Rp125 ribu (kamar) dan Rp105 ribu (dek). Pesawat SMAC tiga kali seminggu, salah satunya hari Kamis dengan ongkos Rp375 ribu. Berangkat pukul 10.30 WIB dari BIM.
Jangan kuatir soal tempat menginap. Ada empat penginapan di Tuapeijat. Tiga di dekat pelabuhan, yakni (Bintang, Kristine, Getsemani), satu di kilo enam (Bundo). Tarifnya berkisar Rp50 ribu – Rp100 ribu. Kalau ingin lebih nikmat, silakan ke resort. Misalnya Anaileu’ita Resort, di Makakang, 15 menit naik boat dari Tuapeijat. Cuma tarifnya agak mahal. Rp300 ribu – Rp800 ribu semalam. Tapi enak, banyak turisnya lagi!
8:42 PM | 0 komentar

Mencari Matahari di Maninjau

Mencari Matahari di Danau Maninjau

Danau Maninjau selalu menarik minat saya, bukan cuma karena panorama danaunya yang tenang namun diselimuti misteri, seperti ada nuansa magis dan mistis yang dipancarkan air danau yang hijau kehitam-hitaman itu; bukan cuma karena Kelok 44 yang fantastis; bukan hanya karena jalan salingka danau dengan nagari-nagari yang sarat mitologi seperti Tanjuang, Sani, Sigiran, Koto Malintang, dan lain-lain; juga bukan karena legendanya yang fenomenal karena menyangkut pembuktian akan kebersihan diri dari sepasang kekasih Sani dan Giran; atau rumah Buya Hamka yang sangat tersohor sampai ke dan menjadi tujuan bagi para wisatawan dari Malaysia, Brunei Darussalam dan Timur Tengah; atau hanya karena rakik (peyek)dan palai (pepes) rinuak (ikan-ikan kecil yang hanya hidup di Danau Maninjau)yang khas Maninjau atau rebusan pensi yang bikin alergi saya kumat, atau Puncak Lawang yang membuat para penggila olahraga paralayang di seluruh dunia ngiler karena ketinggian dan kualitas anginnya yang yahud, tapi memang karena semua itu, bahkan sawah dan perbukitannya yang seperti berlomba masuk ke pelukan danau pun sangat memikat mata saya, sementara bebunyian tambua (gendang besar) serta gendang tassa para musisi tradisional di Paninjauan juga sangat indah kedengarannya di telinga.

Tapi, selalu ada sensasi baru di Maninjau. Bulan Mei lalu saya dan seorang teman fotografer profesional dari Jakarta, mencoba menelusuri sisi lain Maninjau. Kami mencari matahari! Karena menurut Eri dan Budi, dua kenalan kami dari Hotel Tandirih
Maninjau, mengatakan matahri sudah lama tak muncul di sekitar danau, dan bahwa kalau matahari bersinar pendarannya saat menyentuh permukaan danau sangatlah cantik, apalagi kalau dinikmati dari Sakura Hill.

Sakura Hill
Wah, ini tempat baru. Menurut Eri, guide top di kawasan Maninjau, Puncak Lawang, Matua dan sekitarnya, lokasi itu dinamai seorang turis Jepang yang seperti menemukan keindahan bukit sakura di kampungnya di sana. “Padahal mana ada bunga sakura di situ,” kata Eri.

Jadi berangkatlah kami dengan menyewa sepedamotor yang disewa Rp60 ribu per 12 jam. Dari Pakan Ahad motor dipacu mendaki jalan sempit yang berkelok-kelok. “Ini sih Kelok 44 sebelum dipoles,” kata teman saya. Saya setuju, tapi kayaknya jalan itu lebih menyeramkan, karena sempit, berstruktur sebagian tanah liat licin dan sebagian beton lunak yang tak diberi pengaman di sisi yang satu dan berparit dalam di sisi yang lain.

Dan jalan itu jahil bukan main. Sebentar-sebentar motor kami diseretnya, lain saat digelincirkannya ke arah jurang. Kali lain dibenturkannya ke tebing. Yang paling sering dipurukkannya ke parit di pinggir jalan. Sampai akhirnya motor kami menyerah. Ketinggian yangcuram itu menawarkan jurang menganga yang siap melumat tubuh siapa saja yang jatuh ke dalamnya. Jadi kami berhenti menantangnya dan menunggu ojek.

“Wah berani juga mengendarai motor sendiri sampai ke ketinggian ini,”kata tukang ojek yang kemudian memberi tahu bahwa orang-orang di desa-desa sekitar tempat itu saja jarang berani mengendarai motor sendiri. Mereka lebih mempercayakan keselamatannya pada tukang ojek yang tarifnya Rp2.500 sekali jalan. Ini tarif untuk warga Pakan Ahad, Data Monti, Data Kociak, Data Buayan dan sekitarnya. Untuk wisatawan lokal Rp5.000 dan turis mancanegara Rp10.000 sekali jalan.

Dari tempat kami berdiri menunggu ojek, entah kelokan ke berapa, permukaan Danau Maninjau sisi selatan tampak cantik dengan pulau kecilnya.

Setelah tukang ojek datang, yang kemudian kami bayar Rp100 ribu, karena akhirnya mengantar kami sampai ke Puncak Lawang, perjalanan ke Sakura Hill diteruskan. Saya kebagian membawa motor sendiri, teman saya naik ojek, sesuai sopan santun Minang, tamu harus lebih dipentingkan.

Di pinggang bukit ternyata ada desa, namanya Data Monti. Penduduknya tidak banyak dan bersarung semua karena suhu udara agak dingin.

Dari Data Monti, jalan menghilang. Maksud saya berubah menjadi jalan beton pecah, penuh perangkap lubang yang dalam di sana sini, yang tersembunyi rapat di balik ilalang tinggi.Jadi kami jalan meraba-raba, berpedoman pada bekas jalan setapak di bawah telapak kaki. “Dulu jalan ini bagus, dibeton, karena banyak turis ke Sakura Hill, tapi sekarang tidak tahu kenapa tak ada yang peduli lagi,” kata Rizal, tukang ojek itu.

Hampir sejam terantuk-antuk dalam belukar, akhirnya dataran terkenal itu kami capai juga. Selain pemandangan yang memang sedikit beda bila dipandang dari Ambun Pagi atau Kelok 44, tempat itu biasa saja. Hanya dataran rumput seluas 4 X 4 meter persegi dengan sebuah batu besar di tengahnya.

“Dulu ada gazebo serta orang jual makanan dan minuman di sini, sekarang tidak ada lagi, karena turis juga sudah jarang,” kata Rizal. Lagi-lagi dulu! Kami kesal karena matahari belum juga muncul. Kabut asap dari Riau menyembunyikannya entah di mana…

Tadinya kami mengira jalan buruk sudah berakhir, tapi turunan sesudah Sakura Hill membuat jantung terasa copot, karena sangat curam. Motor sampai harus diluncurkan lebih dulu sebelum kami sendiri memperosotkan diri. Mungkin kecuramannya mencapai 75 derajat. Yang jelas dengkul, pinggul dan punggung kami lecet-lecet dibaret batu-batu tajam di kecuraman yang tadinya badan jalan itu.

Selanjutnya kami masih harus berjuang sekitar satu setengah jam lagi melewati Data Kociak dan Data Buayan—yang pendakian dan penurunannya, serta tikungannya dan jurangnya tak kalah seram--sebelum akhirnya muncul di Puncak Lawang dan sampai sore menjelang matahari yang kami buru tak kunjung terlihat.

Tapi di situlah asyiknya wisata petualangan. Senangnya baru terasa setelah pulang dan mandi berendam air panas di bathtub hote. Rasanya sungguh segaaaaaar. (Imran Rusli).
8:38 PM | 0 komentar

Sharing

Info

Sosok

Popular Posts

About Me

My photo
saya selalu ingin menginformasikan segala sesuatu pada publik (soalnya bagi-bagi duit nggak bisa, jadi ya bagi-bagi cerita aja)